SDM Masyarakat Sasak di Bidang Seni Budaya

SDM Masyarakat Sasak di Bidang Seni Budaya

Oleh: Lalu Pangkat Ali

Lalu Pangkat Ali

[Sasak.Org] HAMPIR disetiap cabang seni budaya, masyarakat Sasak di pulau Lombok memiliki ciri khas tersendiri. Kita tahu bahwa, berbagai jenis seni karawitan, pewayangan/pedalangan, seni tari, seni musik, seni ukir, seni beladiri dan seni sastra, memiliki tempat tersendiri di hati masing-masing orang Sasak

Seni karawitan seperti rebana, gendang beleq, kelentang dan tawaq-tawaq, menggunakan gending yang tak jauh beda dengan gendang Bali dan Jawa. Cuma bedanya, terletak pada jumlah personil (sekahe) yang memainkan alat-alat instrumen gong gamelan Sasak yang tidak terlalu banyak, namun menghasilkan instrumental yang ramai. Kita ambil gong gamelan (karawitan) yang mengiringi seni pedalangan wayang kulit. Jumlah personilnya cukup 7-8 orang. Begitu pula dengan gong gamelan yang mengikuti permainan peresaian (saling pukul dengan rotan), dengan personil cukup antara 4-5 orang.

Di bidang seni musik cilokaq, digemari sebagai tontonan rakyat maupun tontonan para wisatawan yang berkunjung. Ada pula seni teater tradisional seperti Cupak-Gerantang yang ceritanya diambil dari takepan Doyan Nada, sebuah cerita panji yang berkembang pada masa kebesaran Jenggala-Kediri dan Kahuripan di Jawa Timur. Begitu pula dengan seni teater tradisional rudat. Teater ini, pada masa sebelum sampai tahun 1950-an, mereka pernah berjaya sebagai tontonan rakyat yang menarik dengan nama rudat kumidi. Cerita-cerita yang dibawakan kebanyakan diambil dari cerita hikayat.

Kalau kita ikuti perjalanan sejarah seni rudat, lebih-lebih dengan cerita komedi, maka seni ini berkembang sebagai budaya Islam di Lombok yang berasal dari Hindustan (Turki) pada masa kejayaan Islam Turki Usmani. Banyak jenis seni budaya Sasak yang masih terpelihara dengan baik. Bila dikemas dan dipersiapkan dengan baik, lalu ditangani secara professional, akan mendatangkan daya tarik tersendiri bagi para wisatawan Nusantara (wisnu) dan wisatawan mancanegara (wisman) yang berkunjung ke Lombok.

Untuk kerjasama dengan instansi terkait (Diparsenibud) serta pihak-pihak yang mengelola kegiatan yang berhubungan dengan wisatawan, seperti hotel-hotel dan restoran, seniman, budayawan, guide serta seluruh komponen masyarakat, sangat diperlukan.

Seni budaya Sasak sesungguhnya merupakan potensi yang paling dapat diandalkan menjadi pemicu kegiatan ekonomi lainnya di bidang pariwisata di Lombok. Selain bidang seni, tidak kalah mutunya dibandingkan dengan hasil masyarakat luar. Hasil seni kerajinan anyaman, ukiran yang tumbuh dan berkembang di berbagai daerah di Lombok Barat, Lombok Tengah dan Lombok Timur, cukup diminati para wisatawan asing.

Di Lombok Barat sendiri memberi gambaran bahwa, kerajinan anyaman, ukiran, seni keramik penghasil gerabah, mulai dari yang kecil bisa dimasukkan ke dalam saku hingga yang memerlukan peti jika akan diangkut ke luar negeri (export), telah dapat dipersiapkan para pedagang.

Di bidang seni desain yang berhubungan dengan motif-motif kain tradisional, beberapa daerah seperti Sukarara, Sade (Lombok Tengah), kain tenuh Gumise (Lombok Barat), Bayan (KLU), Sakra, Suwangi (Lombok Timur), sesungguhnya daerah-daerah andalan. Lebih-lebih kemampuan mengolah bahan kain secara tradisional mulai dari memintal benang hingga pewarnaan, lalu menenunnya menjadi berbagai motif. Pengetahuan ini dimiliki oleh orang-orang Sasak sejak dulu.

Semenjak zaman dahulu, Lombok terkenal sebagai penghasil tenun, kayu sepang dan kapas yang menjadi bahan export. Demikian pula untuk menghasilkan kain-kain yang bercorak tradisional, Lombok dikenal dengan songket ragi genep, bintang empat, rembang dan subahnala. Kini, jenis kain-kain tersebut begitu diminati para wisatawan, sehingga apabila sumber daya yang ada di Lombok dewasa ini mengoptimalkan usahanya di bidang tenun tradisional tersebut, berarti tingkat kemajuan ekonomi bakal menjadi meningkat.

Hanya saja ada permasalahan, kegiatan menenun secara tradisional masih merupakan pekerjaan sampingan dari kalangan yang terbatas. Yang bekerja di bidang ini, terbatas pada orang-orang wanita. Dengan demikian hasil yang didapat belum optimal.

Kaitannya dengan pekerjaan kalangan terbatas, pihak instansi terkait (Diparsenibud) telah melakukan terobosan, guna mengantisipasi kebiasaan tersebut. Upaya sosialisasi dan realisasi telah dilaksanakan sehingga, berangsur-angsur kebiasaan pekerjaan sampingan dari kalangan terbatas bisa terkikis. Di Lombok Barat sendiri, pemda setempat sudah mengupayakan kain tenun Gumise, Desa Sekotong Timur Kecamatan Lembar sebagai kostum uniform pada hari kerja Sabtu. Dengan demikian, Sumber Daya Manusia (SDM) dibidang seni budaya tetap terpelihara, sekaligus terpeliharanya SDM yang berkualitas.

Kesimpulannya, pengembangan pariwisata harus didukung oleh Sumber Daya Manusia (SDM) yang menjurus kearah sikap profesionalisme. Untuk ini, sebagai jawabannya adalah, melalui pengadaan lembaga-lembaga pendidikan formal kejuruan sebagai ajang dididiknya calon-calon tenaga kerja yang trampil, menggeluti bidang pariwisata. Semoga!

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here