Sebuah Nama

Assalamualaikum WR WB

Sepupu saya dari pihak amax seorang pemuda kekar dan agak gelap, dia suka memainkan peran Selandir kalau kami berteater di gang dasan kami. Saya dijadikan Wong Menak, lucu dan geli karena dia boleh keras keras bicara sedangkan saya harus lembut dan halus, sampai saya sendiri gak dengar saya omong apa.

Kami suka sekali betualang ke bukit bukit menangkap biawak dan mengamabil buah buahan di memontong. Sejak masih muda orangnya tegas dan meyakinkan. Dia diberi nama Suratman. Waktu SMA dia jatuh cinta  pada kawan yang juga sepupu saya dari pihak inax. Gadis itu bernama Ratna Waty. Mula mula mereka main main lama lama jadi pacar dan menikah.


 

Amax kake saya itu budayawan kaox juga di dasan kami, nama anaknya bagus dan bermakna indah sebagai doa. Suratman adalah kata yang diambil dari bahasa Sanskerta yang mengandung makna Permata hatiku.  Mungkin Amax kake itu sangat menyayangi dan mengharap anaknya berkilau dalam hidupnya, layaknya intan permata.

Sepupu saya yang cewek itu juga memakai nama dalam bahasa Sanskerta, Ratna Waty (ratnawati) artinya permata wanita. Pasangan itu baik secara pisik ataupun yang lainnya seperti sepasang burung, benar benar
serasi.

Yang paling mengharukan saya adalah kalau mereka saling panggil selalu dengan menyebut nama Suratman dan Ratna. Siapakah di dunia ini yang bias seromantis itu selama lebih 20 tahun? Rama dan Shinta saja  berpisah diakhir cerita, meskipun dianggap paling romantis. Tapi Suratman dan Ratna masih terus saling menyebut nama masing masing. Bahkan pada saat bertengkar sekalipun.

Saya ingat banyak inax inax kalau memanggil anaknya dengan kata sayangku. Tapi kalau marah belum pernah ada yang mengatakan; ” Kedok sayangku!”. Pasti hanya menyebut “lox kedok! La bega!” Dan sebagainya. Tapi kedua sepupu saya itu tetap memakai sebutan yang sama dalam semua cuaca. Sayangku permata hatiku, kemarilah? Kasihku permataku mari kita tidur? Di lain kesempatan mereka berkata ;  “Permata hatiku goblok! Permata lamban!”

Cobas perhatikan nama kita yang diberi oleh amax dan inax, setidaknya makna yang terkandung adalah sebuah pernyataan kagum dan doa bagi kita. Sekarang banyak orang memberi nama sembarangan. Seorang penulis perempuan baru saja melahirkan dan menelpon saya agar dapat memberi nama untuk puteranya. Saya terpaksa menolak karena saya tak tahu bagaimana kehidupan mereka sesungguhnya. Jangan sampai saya salah menyebut atau memasang doa, bisa terlalu ringan atau terlalu berat. Sebagai saran saya hanya mendorongnya memberi nama islami.

Teman saya suka melihat telenovela dan mau mengambil nama tokoh opera sabun yang disukainya. Untung dia cepat bertanya pada saya mengenai arti Batty La Fea. Betty Yang Jelek. Ada anak kecil berlari dijalan  dan inaxnya teriak memanggil Madonna, lumayan artinya gadisku. Di Lombok ada desa terpencil dengan penduduk asing semua, karena naman ya meniru nama bintang top di Sinetron. Tiba tiba anak bangsa Sasak  bernama Jacky Chen, Andy Lau, yang lain bernama Sultan Qabus, Moammar Kadaffy, Leonardo Dicaprio, Britney Spears waduh…

Sebenarnya mengadopsi nama orang boleh saja tapi jangan sekalian dengan nama keluarganya. Karena Andy Lau berarti Andy anaknya Tuan Lau, seharusnya Andy Kangkoeng, supaya berbeda sedikit. Anatara anak  amax Kangkoeng dan Tuan Lau itu. Di Sila saya prnah punya murid namanya Abd. Haris Nasution! Bima tulen.

Kembali ke sepupu saya itu, kelihatannya mereka tidak mengerti makna nama masing masing. Kalau kita sering mengutip kalimat; “apalah artinya sebuah nama?”. Maka sepupu saya adalah orang yang paling tepat  jadi contohnya, karena benar benar tidak faham. Alangkah sia sianya amax kake memberi nama sebaik itu.

Nama sebagai doa seharusnya, melekat pada karakter yang dibangun melalui pendidikan yang baik. Seorang maling yang tertangkap bernama Muhammad fulan. Itu sangat kerap terjadi, sebab orang tuanya sekedar  memberi nama saja pada puteranya. Kewajiban mendorong dan menumbuh kembangkan karakter berakhlak mulia dengan kesalehan sosial tinggi tidak diberikan sama sekali. Apalah artinya sebuah nama, kita berkelit  tanpa rasa sungkan dan tanpa mengerti betul apa maksud Shakespeare dalam ekpresinya itu.

Sebagai mukmin kita seharusnya istikomah, taat azas dalam memegang Islam sebagai jalan hidup kita. Jangan hanya keluar sifat militannya kalau sedang tersinggung atau dibakar emosi kalau agamanya  dilecehkan, tapi militansi harus meliputi gerak gerik keseharian kita yang mencerminkan rahmatan lilalamin, cinta kepada semua makhluk. Tiap apa saja dimulai dengan niat, kemudian berdoa dan bertindak lalu diakhiri rasa sykur. Oh alangkah indahnya hidup ini, nama kita indah, akhlak kita indah dasan kita indah pula. Ya Allah sempurnakanlah akhlak anak bangsa kami sebagaimana engkau sempurnakan penciptaan kami, amiiin.

Wallahualambissawab
Demikian dan maaf
Yang ikhlas

Hazairin R. JUNEP

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here