Secarik Inspirasi LWC dari Lombok

Cuaca terik menyambut ke-30 finalis Letter Writing Competition (LWC) 2015 di Pelabuhan Teluk Nara, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB). Deburan ombak serta udara segar menemani para finalis saat melakukan perjalanan menuju Gili Trawangan dengan kapal cepat.
Sepanjang perjalanan, tak henti-hentinya para finalis yang masih berseragam putih biru dan putih abu-abu ini berdecak kagum dengan pemandangan laut. Sesekali para peserta sempat khawatir karena benturan antara badan kapal dengan air laut disebabkan gelombang yang cukup besar. Rasa takjub dengan keindahan alam menutupi rasa takut itu, bahkan dijadikan bahan gurauan.
Setelah hampir 30 menit melakukan perjalanan laut, akhirnya kapal tiba di Gili Trawangan. Satu per satu peserta perlahan turun dari kapal. Mereka tampak tidak sabar menginjakkan kaki di pulau tanpa kendaraan bermotor itu. Buktinya, para peserta langsung berfoto bersama dan ber-selfie ria.
Kehadiran para finalis di pulau kecil itu bagian dari kegiatan LWC 2015. Bersama panitia penyelenggara PT Pos Indonesia Persero, harian Republika dan BPPD NTB akan menyerahkan bantuan tong sampah sebanyak 10 buah. Itu dilakukan sebagai bentuk kepedulian untuk menjaga Gili Trawangan dari sampah-sampah.
Bagi para finalis, pengalaman selama berada di Gili Trawangan akan menjadi bahan untuk mereka tuliskan kembali melalui format surat. Tidak hanya itu, pengalaman-pengalaman pribadi selama berkunjung di Desa Sade, Pantai Tanjung Aan, dan Pantai Kuta pada Jumat (7/8) hingga Sabtu (8/80) harus dituangkan oleh para finalis melalui tulisan.
Selanjutnya, pada Ahad (9/8), ke 30 finalis dibekali kemampuan menulis oleh para penulis novel dan skenario terkenal, di antaranya Tere Liye dan Habiburahman El Shirazy. Mereka diberikan pandangan seputar teknik menulis dan menuangkan gagasan. Selama hampir enam jam, para peserta mengikuti kegiatan.
Saat memulai proses menulis, para peserta mencari lokasi yang nyaman untuk tempat menulis. Tempat nyaman memudahkan mereka untuk menulis dengan mengalir dibandingkan dengan tempat yang relatif ramai. Setelah para finalis selesai menuliskan pengalamannya selama di Lombok, seluruh juri pun memberikan penilaian dan memutuskan tiga pemenang juara dalam kegiatan LWC 2015.
Tiga peserta dari ke-30 orang finalis Letter Writing Competition (LWC) 2015 yang akhirnya berhasil menjadi juara lomba menulis surat adalah Kirana Mahdiah Sulaeman, siswa Homeschooling Pewaris Bangsa Bandung menjadi juara satu. Sementara, Nurul Aulia Annisa, siswa MAN 2 model Mataram menjadi runner-up satu dan Monica Juliet asal SMA Candle Tree, Tangerang, menjadi runner-up dua.
Kirana Mahdiah tidak menyangka bisa menjadi juara lomba menulis surat. Dia menilai bahwa tulisan yang dibuatnya selama kegiatan kurang berkualitas dibandingkan dengan peserta yang lain. Di mana, rata-rata peserta lainnya menulis dengan memakai gaya bahasa yang sastrawi.
“Benar tidak menyangka, soalnya saat bikin surat merasa kurang berkualitas dibandingkan dengan teman yang lain. Peserta lain indah banget menulisnya, aku biasa saja dan nggak tahu kenapa bisa terpilih. Senang banget jadi juara LWC buat pertama kali,” ujarnya.
Kirana menuturkan, surat yang ditulisnya menceritakan tentang perjalanannya selama di Lombok, khususnya menyangkut budaya dan adat istiadat Lombok. Ia menilai budaya Lombok adalah budaya anti-mainstream seperti Merariq, sebuah budaya yang merupakan akulturasi antara Islam dan budaya lokal. Jika memiliki kesempatan, dia mengaku ingin tinggal di Lombok.  Oleh Muhammad Fauzi Ridwaned: A Syalaby Ichsan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here