Sejarah Jujur Kita

Hazairin R. Junep

Yogyakarta (www.sasak.org) Toean Goeroe menguasai ilmu tanpa payah bereksperimen dan kerja keras, untuk memperkaya diri dan mengakui hasilnya sebagai milik mereka seperti; gedung, tanah, uang sampai jama’ah dan kursi di dewan atau kekuasaan politik. Orang kafir yang kaya raya semacam Bill Gate yang berjuang dari bawah tidak merasa memiliki hartanya yang melimpah oleh karena itu dia menyerahkan hampir seluruh kekayaannya untuk menyelamatkan orang.

30 lalu tahun saat tinggal di Lombok saya diberi tahu oleh seseorang bahwa kita lebih baik berteman dengan maling daripada dengan Toean Goeroe. Saya lama sekali merenungkan hal itu dan belum pernah membukanya. Sekarang ada salah seorang anggota forum di FB mengatakan hal yang sama. Toean Goeroe mencari makan dari rakyat jelata dan mereka berebut pengaruh. Bersaing dengan TG lain, kalau perlu berkelahi sambil menjelekkan satu sama lainnya. Kalau maling tidak mungkin mengambil keuntungan dari orang miskin karena tak mengerti psikology untuk membuat orang jadi zombie atau pak turut. Maling menggasak harta orang lalu dimakan dan dibagi kepada sesamannya. Maling itu punya keberanian luar biasa dan solidaritas sangat tinggi. Dia sanggup mati demi menyembunyikan identitas partnernya. Kalau bertobat pasti dia menjadi manusia unggul, pekerja keras dan kesatria sebab terbiasa kerja malam yang menuntuk badan fit.

Kebalikannya terjadi pada TG, mereka lemah fisik dan tidak kreatif, sampai detik ini masyarakat Lombok masih tertinggal dalam segala bidang. Bukan kemakmuran rakyat yang tercapai tetapi kemakmuran TG yang menjulang julang. Maling menurunkan maling yang lebih piawai kalau TG hanya memperbanyak zombie saja.

Kumpulan para TG adalah kumpulan bisnis agama, dalam bisnis harus tega mengambil untung meskipun objek garapan sedang susah. Para TG modern selama 30 tahun terakhir ini tidak sanggup membangun karakter kuat anak bangsanya sehingga sampai detik ini rakyat masih banyak yang tidak membaca meskipun yang sudah lulus perguruan tinggi. Para pengikut TG yang sarjana hanya jadi pak turut tanpa mendalami ilmu pengetahuan yang menjadi syarat kemulian manusia yang ditinggikan derajatnya oleh Allah. Para sarjana itu dicetak untuk mendukung membabi buta TG masing masing. TG bisa berkelit dengan selogan TG juga manusia yang boleh apa saja.

Masyarakat kini adalah masyarakat yang terpesona oleh apa saja yang didatangkan dari luar negeri. Maka yang berbau Arab laris manis ditiru dan dikembangkan sebagai hasil ajaran TG yang dekat dengan Arab. Orang Arab yang ditiru sementara itu menjalani kehidupan yang jauh berbeda dan tidak selalu sejalan dengan Islam. Manusia Saudi yang tidak merdeka dinegerinya pergi ke Bahrain yang bebas untuk berbuat apa saja sesuka hati. Perempuan direndahkan sampai tidak boleh menyetir mobil. Mereka suka makan dan foya foya. TKI diperkosa dan disiksa sebagai budak. Gaji tinggi untuk seorang insinyur kepala asli Saudi yang datang pagi sebentar dan tidur siang datang cek lagi, bekerjanaya 5 hari dan liburnya 10 hari diganjar 1000 dolar perhari juga sama diterima saat libur 10 hari itu. Mereka dimanjakan oleh uang, minyak dan emas. Di Kuwait agar anak mau pergi ke sekolah maka mereka dibagikan uang tiap hari agar mau belajar. Persis seperti disirkus. Orang Arab bangga jadi polisi, sopir dan berdagang, meskipun demikian mereka respek pada orang berilmu.

Kelompok intelektual kita sangat suka dengan pandangan barat sebagai hasil ajaran kaum terpelajar yang berbau coboy. Maka sejarah Sasak jadi rebutan untuk dibicarakan sampai ada buku orang asing yang akan diterbitkan dan dibagikan percuma sebanyak 10.000 eksemplar. Para pemangku kepentingan dan pemimpin tidak menyadari bahwa antek asing sampai kapanpun mencari berbagai bagai cara untuk menyusupkan misi purbakalanya demi mengarahkan anak bangsa agar tetap menjadi anak buah. Sejarah Sasak sangat jelas sebagai mana sejarah Australia dan USA tapi kita multi etnis jauh sebelum kedua negara bule itu eksis. Tidak ada raja tetapi KELIANG yang di Jawa disebut Demang. Setelah adanya pengaruh Jawa ada juga yang disebut Demung. Para Keliang adalah pemimpin dasan seukuran pedukuhan. Itulah yang ada ditanah Sasak. Masing masing Keliang independen tetapi saling mendukung karena ikatan persaudaraan yang lekat. Kalau saya katakan ada datu datuan pasti ada yang marah tapi kalau bule yang bicara begitu semua terpana dan mengamini bahkan ikut menyebarkannya seolah sedang meneruskan hadits shohih riwayat Kapten Tark.

Sejarah tidak mesti lewat sumber tulisan tetapi bisa dari sisa sisa informasi generasi tua terakhir yang mengingat dan masih mejalankan cara hidup zamannya. Saya mendapat banyakl informasi dari papux yang merupakan salah satu orang tertua di Selong pada tahun 80an. Dan dikuatkan oleh beberapa tokoh yang intergritasnya dapat dipegang. Mereka orang jujur dan tidak punya alasan untuk mengambil keuntungan dari mengarang dongengan. Salah satu Keliang berpengaruh kelak dianggap sebagai raja padahal raja itu adalah seorang AMAX bukan raden atau yang lain.Apakah ada dongeng yang tidak memakai amax dan inax, dalam jampi dan senggeger saja selalu menggunakan kedua sebutan itu.

Ketika kita sudah sampai kepada pertikaian rumit soal peran para menak dan penghiatan mereka serta peran penjajah lainnya, ada baiknya kita kembali ke sejarah yang lebih lampau dan membandingkannya dengan kedua negara tersebut tadi. Jujurlah bahwa menak jahat itu sangat minoritas yang bahkan menjadi musuh menak lainnya. Baiknya kita kembalikan kepada INAX dan AMAX yang merupakan cikal bakal bangsa Sasak yang dikemudian hari bercampur baur dengan segala bangsa di dunia.

Apa yang sudah terjadi adalah pelajaran berharga dan kita pakai sebagai pondasi kuat bangunan karakter bangsa Sasak. Yang utama sekarang adalah membangun kembali keluarga besar yang tidak dibatasi oleh garis geopolitik dan kepentingan sesaat semacam pilkada, rebutan jamaah dan sejenisnya.

Kini saatnya kita mengembalikan TG ketempat seharusnya berada dan kembalikan hak rakyat jelata untuk hidup sebagaimana mereka hidup seharusnya. Hentikan eksploitasi dengan segala bentuknya. Pendidikan harus dibuka dengan akses luas. Kebutuhan dasar pangan diutamakan agar sehat dan bisa belajar, bekerja dan mengabdi bagi bangsa dan negara. Dengan adanya demokrasi hendaklah semua pemimpin menjadi jujur. Demokrasi yang benar adalah ketika pejabat dipilih untuk melayani rakyat. Seharusnya gubernur naik bis atau cidomo, makan dengan raskin dan berumah dirumah sendiri tanpa fasilitas negara diluar jam dinas.

Para ulama yang kegenitan ingin jadi umara adalah orang yang tidak tahu demokrasi apalagi profesionalisme. Para umaro yang kegenitan ingin jadi ulama malah jadi ulama su’ adalah orang yang anti profesionalisme. Yang lebih celaka adalah satu orang genit yang mengangkangi keduanya dan ogah melepas baju dinas dan ogah pula melepas jubah. Orang sperti itu nyata nyata melakukan korupsi sebab dia berjubah disaat dinas dan dia berambtenaar disaat mengisi acara kampanye terselubung berkedok pengajian.
Mari kita jujur sekarang dan disini, beranikah?
Wallahualambissawab

Demikian dan maaf
Yang ikhlas

Hazairin R. JUNEP

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here