Sepenggal Babad Batu Besar III

Assalamulalaikum wr wb.

Hazairin R. Junep[Sasak.Org]
Melihat luasnya lahan yang dipakai untuk ambisi datunya membangun bandara, Rustambing tepekur, alangkah sayangnya keputusan itu. Bukan tidak boleh tapi sangat tergesa gesa seperti selalu saja terjadi pada setiap pembangunan apa saja. Mungkin watak datu datu Sasak sudah demikian pekatnya diliputi oleh sifat tergesa gesa sehingga mereka tak tahu sekal priritas yang dapat menyelamatkan anak bangsa dan sekaligus memajukan segala sector. Sore sore setelah macul dan melinggis sawah kering itu mereka duduk di brugax persis di tepi jalan di jebak dasan. Ada seorang yang dituakan ikut duduk sambil minum kopi dan ambon kulut. Temanya sederhana dan tak ada protokol, semua yang hadir sudah faham bahwa yang tua yang harus banyak bicara tapi sesepuh kita ini bilang: ” Jangan sungkan sungkan, inilah saatnya kita kembali mengungkapkan rasa cinta kita yang lama dikubur oleh musuh kita yang tampak dan tidak tampak!”. Rustambing heran apa gerangn musuh tak tampak itu. Dia hanya mengira kira maksud sesepuh ini.

Musuh yang tidak yampak itu jauh lebih dahsyat dari semua penjajah kuno disatukan dengan yang super modern. Yang tidak tampak itu ada didalam dada dan otak manusia yang tidak terpimpin oleh ruh. Ruh itu adalah titipan yang ditanam Nenex ke dalam benda titipan berupa awak. Kapan saja cangkokan titipan pada benda titipan ini diambil maka kedua titipan itu musnah. Titipan itu dijadikan pemimpin bagi yang tampak, tapi yang tampak sering terlalu pongah dan suka berlaku sesukanya, padahal dia hanyalah tanah yang sama dengan tain petux!. Bila sudah berkuasa sang penjajah yang tak tampak itu, Cahaya tak dapat dilihatnya karena kotoran tak punya mata. Kita adalah kotoran, tanpa adanya ruh.

Rustambing geleng geleng, dia belum pernah mendengar seorang TG pun yang sangat kejam menganggap diri ini hanya kotoran. Sang Dewa Perang, suka senyum senyum sendiri, maklum semua yang diucap sesepuh itu telak mengenai dirinya. Dia doyan sekali makan dan siap melawan rintangan yang dihadapi di jalan pencarian ini. Istilah si Dewa Perang ini adalah “andelang baduk doang”. Rustambing yang penasaran ingin sekali bertanya tapi dia ragu, maklum dia sudah belajar etika di berbagai belahan dunia. Agama apa saja dilahap, adat apa saja dicermati, maka sangat hati hati sekali dia soal berbicara, jangan sampai ada yang tersinggung dengan sepotong bunyipun.

Pagi berikutnya mereka bawa lagi linggis dan pacul, Dewa Perang cekatan sekali melinggis tanah yang berempak empak dan liat itu. Campuran tanah vulkanik dan tanah liat yang kalau basah hanya kerbau yang sanggup menginjak injaknya agar empuk. Tak ada yang mengira jika musim tanam lahan tandus ini dapat berubah menjadi suarga padi yang hijau dan akhirnya menguning. Aroma tanah kering ini sedap sekali seperti ada yang membakar ubi jalar, aromanya terbang ke angkasa. Dalam dongeng inax dahulu, bidadari itu makannnya hanya dari aroma saja karena dia berwujud benda halus dan tinggal di awang awang.

Agak siang sedikit saat orang shalat dhuha, terdengar teriakan dari seorang lelaki kurus. Dia menuntun istrinya ke bebalex di atas pelepe bangket. Nampak istrinya kesakitan, memegang perutnya yang besar. Rustambing dan Dewa Perang melempar senjata dan lari mendekat. Ibu itu sudah terlentang diatas para para dan suara bayi memecah diantara asap asap onggokan roman yang dibakar, mengalun bersama tiupan angina alus. Rustambing memberi instruksi kepada pengawalnya untuk mengambil air satu ember dan memanggil belian. Sementara itu dia memberi pertolongna pertama. Tangan dicuci bersih dan bayi diambil lalu diselimuti. Penantian yang lama sekali, belian tak kunjung tiba padahal Dewa Perang sudah siap denagn air seember penuh. Rustambing membaca basmillah dan mengambil silet cukur yang baru di tas pinggangnya. Dia bergerak seperti dokter puskesmas yang hendak mengoperasi pasien koreng. Dengan hati hati diambilnya benang yang juga ada di paket kecil dalam kembokannya itu. Di pelepe tumbuh kunyit yang subur dia cabut satu dan digerusnya sebagai antiseptic.Benang dibasahi kunyit agar steril lalu diikatnya tali pusar si bayi kira kira 10 cm dan dipotonglah dibagian atasnya. Kemudian bayi itu di bersihkan dan ditidurkan disisi ibunya. Rustambing bilang: Azankan!. Si Dewa Perang maju tapi disintat, sebab bila dia sampai kumandangkan azan pasti orang tengax mati tertawa dengan logatnya yang bermelodi dangdut. Maka Amaxnyalah yang mengzankan dan mengikomahkannya. Belian baru nongol saat ikomah selesai seperti mau sholat saja papux itu. Datang dishaf terakhir. Tapi giliran mengurus ibu bayi adalah tugas perempuan belian itu.

Rustambing, Dewa Perang dan Tanax Awu menjadi saksi kelahiran anak laki laki dasan disaat orang membongkar dan merusak lingkungan hanya kerena urusan perut para datu ambisius dengan segudang rencana pada bandara itu. Ibu dan bayi itu dibuatkan tandu untuk diangkut pulang. Amax bayi dan Dewa Perang menandu sang ibu sementara Rustambing menggendong bayi sebab papux belian sudah peot sekali sehingga tak kuat membawa penginang sendiri. Terjal sekali lahan lahan ini, bongkahan tanah keras sekali. Sering petani yang melinggis celaka dibuatnya karena bongkahan menggelinding dan linggis mengenai kaki. Atau terpeleset saat jalan. Harus hati hati sekali melintasi sawah tadah hujan yang berhektar hektar itu. Sesampai di dasan, mereka sudah dinanti semua penghuni dasan yang tadinya bekerja di sawah. Mereka masukkan ibu dan bayi untuk istirahat dan mandi kemudian semua kumpul di berugak.

Sesepuh datang, sangkep bersama. Rustambing dipangil bersama Dewa Perang dan amax bayi itu. Sesepuh berterima kasih pada Rustambing serta Dewa Perang. Dan sebagai tanda mata, sesepuh meminta agar nama bayi itu Rustambing. Rustambing tidak setuju karena takut jadi orang beken sebab baru kali inilah selama 500 tahun dasan itu ada, seorang laki laki menolong kelahiran bayi!. Dewa Perang melirik Rustambing memberi kode agar dia setuju. Tapi Rustambing punya nama buat bayi itu. Usulnya adalah ” Tameng Muter”. Sesepuh langsung senyum dan setuju. Rustambing adalah pepadu hebat di zaman dahulu dan dia bersenjatakan tombak dan tameng yang dapat berputar sangat cepat sehingga musuh jadi pusing. Dewa Perang bingung, mengapa di zaman modern kok masih ada nama begituan sih.

“Papuk” kata Rustambing. Saya punya alasan kuat mengapa kita memerlukan tameng muter saat sekarang ini. “Apaan’ celetuk Dewa Perang. Orang pakai bazoka situ masih muter muter!. Sang sesepuh mencoba menyetop Dewa Perang dan minta agar mendengar alasan pemilihan nama itu. Rustambing lalu menanyakan kepada sesepuh mengapa terjadi degradasi budaya, adat dan tradisi di dasan ini. Kecuali dasan Sade, yang dibuat sebagai iming iming turis apakah masih ada yang dibanggakan?. Rustambing ini lupa diri, seharusnya tak kasar dan tajam kalau bicara pada sesepuh. Dia segera minta maaf; ” Ampure papux” saya khilaf. Sesepuh bilang: ” kita sudah lama sekali tidak punya orang kritis di dasan ini bahkan di tanah Selaparang sudah tak terdengar lagi suara yang agak berbeda. Mereka selalu amin kepada apa dan siapa saja. Inilah akibatnya. Teruskan bajang apa yang menjadi pertimbanganmu dan beri alasan yang masuk akal agar bajang yang kumpul disini, di brugax ini kembali merasakan ruh dari padepokan kuno kita ini.

Rustambing melihat betapa komunikasi antar anak dasan sangat lemah dan jarang terjadi. Mereka tak dapat bicara satu dengan yang lain. Ada anak ngebut, dilarang tidak mau, akhirnya berkelahi. Tidak cukup sampai disitu masing masing kelompok saling undang untuk gabung dalam perkelahian. Lain waktu ada bajang yang mengganggu wanita dasan dan mulailah disulut api perang. Kenapa hari demi hari dasan makin aus, kumuh, beringas dan tak punya harapan?. Lahan yang luas untuk bercocok tanam makin hilang diganti bandara. Apakah kita tidak memikirkan dengan dalam bahwa manusia butuh beraktifiatas. Memacul, melinggis, pano, menanam, ngeder, matax, dan menggali dan memacul lagi. Hidup ini perlu aktifitas rutin. Itulah inti dari ibadah. Ibadah itu perlu ritual. Ritual itu perlu gerakan yaitu perbuatan dan aktifitas. Dari situlah roda kehidupan berputar. Makan itu adalah bagian dari aktifitas atau gerakan ritual. Jangan jadi tujuan!

Papux balox kita telah membuatkan kita sarung artinya supaya kita mengurung diri, membatasi diri. Kereng dari kata kurung seperti dereng dan durung ia berubah bunyi tanpa kehilangan makna. Kita harus membatasi perputaran diri sebagai mikrokosmos yang beredar di porosnya. Ada batasan jelas jika dilanggar jadi khaos. Perempuan kita memakai lambung. Lambung artinya panggul, karena sesungguhnya semua anak manusia dipanggul oleh wanitanya. Wanita yang baik melahirkan bangsa yang baik, apabila wanitnya buruk maka semua bangsanya buruk! Lambung dalam bahasa modern berarti juga melambung, mengangkat tinggi. Lihatlah betapa indahnya lambung yang dibuat berhias ditepian. Berwarna warni. Kita anak dasan serasa melambung melihatnya dan yang memakainyapun tak kalah melambungnya sehigga serasa terbang. Hitam adalah tanah, karean perempuanlah yang punya gumi, epen bale. Merah berarti darah kita yang sama. Kuning adalah padi kita dan hijau adalah hutan kita sedang biru adalah langit kita. Itulah warna warni dasan yang sejati.

Tameng Muter dipilih sebagai bentuk perlawanan agar terjadi kelahiran kembali di dasan ini. Saat ini dan disini dibutuhkan tameng muter yang dapat berputar cepat dengan kemampuan diplomasi tingkat tinggi. Ketika anak dasan masih beraktifitas seperti melinggis dan memacul ditawarkan bandara besar, akibatnya harkat martabat pasti terinjak. Alif bengkok saja tidak tahu bagaimana mereka dapat mengisi lowongan kerja yang beribu ribu banyaknya itu. Bandara memerlukan puluhanh ribu SDM kalau tiap orang menghidupi 3 orang maka semua anak dasan makmur. Tapi tak ada yang kapable untuk diandalkan sekedar jadi Klining servis!. Apakah kita akan melihat ahli momot meco pindah dari boug ke pinggir bandara nonton pesawat datang dan pergi?. “Papux, saya tak sanggup lagi membiarkan Tanax Awu yang sempat jadi ladang pertempuran tak berimbang antara anak dasan dengan para centeng kaki tangan asing dan datu lokal”. Kita semua ingin agar para datu lebih bijak, mempersiapkan manusia dahulu baru yang lainnya. Jangan selalu tergesa ingatlah KERENG dan LAMBUNG, jangan sampai kita terus saling membantai. Tameng Muter harus kita didik dengan akhlak mulia, mengerti politik dan ekonomi, tahu lingkungan dan diplomasi, dengan kemampuan komunikasi seorang polyglot. Mari carikan lagi 9 Tameng Muter untuk mengahadapi musuh yang selalu saja pandai memutar mutar kepala kita sampai pusing. Sesudah pusing karena mabuk fulus, arak dan jabatan, tidak ada kecualinya para datupun hanya diarak dalam gorong batang! Tameng Muter adalah amunisi kita untuk memutar kembali roda kehidupan anak dasan yang siap dengan kemajuan zaman.
Maju dan jayalah bangsa Sasak!

Wallahualam bissawab
Demikina dan maaf

Yang ikhlas

Hazairin R. JUNEP

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here