Sepenggal Babad Batu Besar VII

Assalamualaikum wr.wb.

Hazairin R. Junep[Sasak.Org] Rustambing segera memberi instruksi kepada Dewa Perang agar secepat mungkin mengambil langkah langkah efektif untuk mengantisipasi musim berkelahi di daerah Tengax dan Timux naupun Bawax negeri Sasak. Di gumi paer ini yang namanya berkelahi itu seperti musim buah buahan ada yang sekali setahun ada yang dua kali tapi ada juga yang tidak ambil pusing mau hujan mau panas berkelahi terus. Klau mau mencatat yang positif ada dua perkelahian ajax ajax yang jadi atraksi turis yaitu perang topat dan perang timbung. Meskipun namanya perang tapi penuh suka cita dan cinta. Kalau yang disebut sebelumnya bisa lebih ngeri dari perang Iraq!. Turun temurun di tempat yang sama oleh kelompok yang sama. Bikin pusing bangsa Sasak kalau sudah mulai ribut.

Dewa Perang sangat stress membaca instruksi tertulis dari bos. “Cari akar permasalahan sampai tuntas!”. Kata perintah tertulis itu. Dia termenung, mulai dari mana perkara rumit ini harus diurai. Kalau benang kusut sudah pasti dibakar saja supaya tidak membuat yang lain kesait. Tapi ini yang kusut adalah otak anak Bangsa Sasak yang secara serentak terjadi dan berulang. Memfitnah politik, menuduh adat, menggugat tetua, semua tidak terkait langsung, sebab perkelahian itu melampaui akal sehat untuk dimengerti. “Lebih baik aku berkelana, seperti biasa kami lakukan saat Rustambing di gumi paer”, angan si Dewa Perang. Mencari ujung perkara tidak bisa berkutat dipusat masalah harus pergi sejauh jauhnya agar tak terlibat secara emosi, apalagi jadi korban.

Keputusan Dewa Perang untuk melanglang buana sendiri tanpa lapor bos sebenarnya akan membahayakan dirinya, sebab dia kurang dikenal sehingga tembok birokrasi dan pagar betis bebajang yang penuh curiga pada orang luar dasan tidak mudah diterobos. Dia merenung sehari penuh sampai lupa minum kopi dan makan talas rebus dan nasi dengan pes kerujuxnya. Sebelumnya mereka sudah mengembara diwilayah hutan dan gunung ada baiknya Dewa Perang mencoba ke tepian agar segar pemandangan dan fikiranpun lapang penuh inspirasi. Besok pagi akan dimuali kearah bukit bukit selatan. Sekarang siapkan tenaga dengan makanan sehat ala dasan dan tidur nyenyak. Berarti kopi terakhir adalah jam 14.00 agar efeknya tidak bikin insomnia nanti malam.

Dewa Perang mula mula masuk ke bekas tempat BERDIRI PEMERINTAHAN ( Kediri) dan mencari dimana puing puing kerajaan lama, tapi tak ada sisa. Kemudian meneruskan ke sebuah LUBUK (Gerung) siapa tahu masih ada ikan yang bersembunyi disana. Dia mencoba mendaki bukit bukit yang penuh ditanami ubi kayu, jagung dan kacang tanah, kalau musim kemarau angin berhembus dari LAHAN TERBUKA ( LEMBAR) ini, menyapu pelabuhan yang gersang. Para nelayan tak lagi bebas keluar masuk di pelabuhan sejak dijadikan sebagai tempat sandaran kapal kapal besar. Dewa Perang memutuskan menginap di sebuah dasan dengan 5 rumah yang sama sekali putus aksesnya pada jam 17.00 akibat air pasang. Kalau orang mau keluar harus menaiki perahu kecil namun mereka hanya keluar dalam keadan darurat. Di wilayah ini tak ada hansip, tak ada kantor tak ada puskemas. Kata orang disitu, pernah dasan mereka tenggelam saat TSUNAMI (Akibat gelombang) di Aceh. Pada saat azan subuh berkumandang dari masjid di seberang celah, Dewa Perang sudah naik dipuncak yang paling tinggi dari bukit di dasan. Dia shalat disana dan menanti matahari terbit. Sungguh luar biasa kuasa Allah menghamparkan gumi paer dengan pasak pasak besar dimana mana. Ada seberkas cahaya menimpa sisi timur bukit diseberang, bekas longsoran akibat pembabatan hutan yang sangat jahat yang telah diperbuat oleh tangan anak dasan sekitar. Bentangan TANAH KOSONG (Sekotong) tampak gersang. Dasan tempat menginap ini, berisi orang yang sangat bijak, kayu ditanam sendiri, rumput diusahakan dengan menanam juga, alam benar benar dijaga keasriannya. Jambu batu, pace, bumbu dan tanaman obat berlomba tumbuh memenuhi tiap jengkal lahan serta kelapa dan PALAWIJA (buah dan biji). Setiap menebang pohon selalu harus menanam dua pohon baru ditempat pohon lama.

Kalau cara hidup ini diterapkan di Ketare dan sekitarnya insyaallah tak akan ada perkelahian yang menjadi agenda rutin itu. Orang orang yang menghuni dasan ini sebaiknya ditransmigrasikan atau ditransplantasikan di Ketare dan dasan dasan yang hobi berkelahi agar mereka mencontoh kerja keras dan rasa hormat kepada alam. Sangat mengherankan banyaknya bebajang yang lebih suka momot di bough, seharusnya mereka pergi ke laut untuk mancing tinggal dilempar lalu momot nunggu ikan menyambar, tangkap dan momot lagi, itu jauh lebih bermanfaat. Mantri kleder seharusnya dapat disuruh berbaris dibelakang kerbau yang menginjak injak sawah, daripada memutari dasan 10 kali sehari. Dewa Perang hanya berangan angan, betapa hebatnya generasi ini kalau produktif.

Dewa Perang melaporkan hasil pencarian di bukit bukit seputaran Lembar. Orang orang diseluruh gumi paer sedang repot menghadapi kenduri jamaah pengajiannya. Yang menjadi masalah adalah dua kubu dan kubu sempalan lain tampak saling bersaing merayakan dan membesarkan diri. Sebenarnya apa yang tampak diluaran hanya efek permainan politis orang orang yang mengambil keuntungan dilingkaran masing masing tokoh utama. Parasit yang doyan makan dengan menghalalkan darah saudaranya itu berbahaya tapi sekaligus bermanfaat. Masyarkat akan melihat daya tahan dari tokoh sentral masing masing kubu, apakah akan mati dihisap parasit atau dapat membebaskan diri dan membawa anak bangsanya menuju kejayaan. Itu urusan waktu buka urusan Dewa Perang atau Rustambing. 

Tratak daun bambu mulai memenuhi pinggir jalan sampai diareal luas seluruh dasan tempat pusat jamaah kumpul. Para pedagang souvenir dan makanan siap siap menyongsong hari H kenduri tahunan ini. Dewa Perang mendapat amanat dari Rustambing untuk bertemu dengan bajang Sasak tulen yang bersembunyi di lahan tumbuhnya BUNGA TANJUNG, Mimusop elengi (Tanjung). Di dasan ini banyak pepadu Sasak yang jago sepak bola dan salah satu dasan tempat para peniaga Sasak sejak dahulu. Di sebelah barat kira kira satu kilometer ada dasan yang dahulunya dibuat UMBUL UMBUL BESAR atau PENJOR (Klayu) yang juga tempat para entrepreneur asli Sasak berkumpul. Di Tanjung itulah Dewa Perang harus menemukan seorang yang bernama Demung Sandhubaye ( Penjaga Perdamaian). Dia ini adalah seorang terpelajar dan patriotis. Meskipun antara Rustambing dan tokoh ini hanya saling kenal lewat cerita dan hanya bertemu sesekali saat ada perisaian atau sepakbola tapi lewat hubungan antar kelompok bajang segumi paer, silaturrahmi virtual terjalin hangat. 

Pernah sekali dua kesebelasan favorit mereka bertemu di final , PST melawan kesebelasan SAAT YANG DAMAI (Sandhikala) kedua team itu saling berganti kalah dan menang, semua pendukung dari awal sampai akhir berjingkrak jingkrak tapi damai. Tak ada holigan di dasan apalagi bonek yang rusuh, semua adalah penggembira. Sesekali Wasit Pak Sulaiman di kecam tapi itulah salah satu wasit terbaik di dasan. Demung Sandhubaye punya pergaulan luas sehingga dia dapat dengan mudah mengumpulkan pepadu yang bahkan bersembunyi di LOBANG IKAN SIDAT ( Lowang Tuna), LOBANG ULAR PYTHON (Lowang Sawax), TEMPAT KEBAIKAN YANG HARUM ( Dharamawangi), Dasan orang yang SUKA MAKAN (Peneda), di Bukit dan Lekukan (Korleko), Ladang RUMPUT (Gegurun), MANGGA BERWARNA GADING (Poh Gading), BATU DEWA (Batuyang) sampai di pelabuhan TEMPAT BERTEMU DENGAN DEWA (Kahyangan) tak ada pengecualian.

Dewa Perang harus bicara dengan Demung Sandubaye menganai tiga lembar takepan yang hilang. Takepan yang ditulis dengan torehan huruf Sasak yang sebenarnya adalah Hanacaraka yang dipakai di Asia Tenggara dengan gaya khas. Tiga Lembar takepan itu hilang saat terjadi kekacauan Ganyangan di Lombok Timur. Sejak hilangnya tiga lembar takepan itu kehidupan anak bangsa Sasak kocar dan kacir tanpa pegangan kuat kepada ajaran agama Islam maupun adat Sasak Lokax. Apalagi setelah kepergian satu satunya TUAN YANG
MENGAJAR (Tuan guru) Almarhum Tuang Guru Al Pancori, makin runyamlah anak bangsa Sasak ini. Dewa Perang memberi nomor HP dan alamat elektronik Rustambing yang terakhir agar mereka dapat berkomunikasi lebih cepat.Menurut cerita isi dari tiga lembar takepan yang hilang itu menyangkut gambaran prilaku dan karakter Bangsa Sasak.

Penghuni gumi Sasak ini dibagi dalam tiga kelompok. Kelompok DATU adalah mereka yang berkuasa atau berpengaruh karena politik atau harta. Kelompok berikutnya adalah orang yang deberi makan yang dalam bahasa Sasak disebut “DENGAN TEIMPAN”. Kelompok ini adalah orang yang bekerja untuk datu, baik sebagai pegawai atau pekerja yang terikat dan menerima upah secara teratur. Kelompok terakhir adalah “DENGAN METANG DIRIX” atau Swadaya yaitu orang yang mengusahakan hajat hidupnya atas daya upaya sendiri. Mereka adalah para pedagang, pengrajin, petani dan buruh. Masih banyak lagi pembahasan lain yang akan diceritakan oleh Demung Sandhubaye tapi Dewa Perang sudah mengantuk, mereka beranjak tidur di brugak. Malam itu rembulan penuh dan udara hangat, kelelawar beterbangan menyambar buah jambu, mangga dan sawo. “Kekeyas”, burung hantu menjerit berkali kali terbang kearah barat melintasi dasan yang semakin sunyi. Alam yang damai ini tak juga dapat menjadi pelajaran bagi penghuni gumi paer. Entah apa yang kurang sehingga penghuninya kurang pandai bersyukur.

Wallahualambissawab,
Demikian dan maaf

Yangikhlas
Hazairin R. JUNEP

3 COMMENTS

  1. Jika memang takepan belum dijumpai cobalah telusuri lewat dongeng “godeq tuntel,” godeq itu apa..dan siapa..! Tuntel itu apa dan siapa..? Dan yang ketiga siapa yang membuat dongeng ini..? Antara ketiga ini yaitu pengarang dongeng,godek,dan tuntel dimanakah kita meletakkan diri kita…’sang ngeno jgane…’dongeng ini menjadh petunjuk,teguran,peringatan dan pedoman hidup bagi semua lapisan anak sasak,”sang ngeno jgane”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here