Takepan Sasak

Dalam lipatan warsa silam, karya sastra di Lombok termasuk berkembang pesat. Merupakan segmentasi perbendaharaan budaya gemar menulis, identifikasi geliat sastra klasik. Berupa naskah lontar maupun akrab dengan istilah manuskrip.
Hal ini ditandai dengan masih ditemukan beberapa karya tulis, kadang masih ditemui edar dan simpan di kalangan warga. Sekalipun jumlahnya sejalan waktu kian mengalami degradasi. Bisa jadi rusak akibat tidak dipelihara maksimal. Langkah konservasi yang setengah hati. Atau, bahkan beralih status kepemilikan di tangan para kolektor dan pemburu barang antik.

Karya tulis berbasis daun lontar kering ini bagi kalangan lokal lombok dikenal dengan debut Takepan Sasak. Secara aplikatif eksistensi lontar pada masa itu bisa merupakan wahana media penyalur hasrat menulis. Bidang linguistik dan kobar semangat literasi jauh sebelum mengenal era kertas. Yang jika dipikir-pikir lagi betapa kontradiktif dengan perkembangan era kini. Ketika kertas menjadi lumrah dipakai, tercetus ide lain demi alasan konservasi tematik hijau. Bahan dasar olah kertas yang berasal dari pulp ternyata bahan baku utama-nya dari pohon. Maraknya ilegal lodging berimbas pada sub-olahan, fenomena kertas. Sejalan tehnologi IT dan bidang komputasi semakin bergaung lagi kampanye demi dukung aksi hijau, paperless.
Betapa unik, serasa dari warisan budaya lawas ini saya pribadi diajak me-refleksi-kan lintas masa dan kurun peradapan, terapan ramah lingkungan sudah lama berlaku. Sekalipun saat itu terlalu riskan dikatakan telah mengenal filosofi tehnologi daur ulang. Mungkin baru terpikir sekedar memanfaatkan bahan baku yang tersedia oleh alam. Tidak cuma berfungsi sebagai kulit pembungkus tembakau..bak rokok klobot (kulit jagung). Rokok lontar, demikian dinamai oleh etnis Samawa.

Bagi sesiapa yang sempat kunjung ke mataram – Lombok, masih bakal bisa jumpai beberapa takepan sasak di museum NTB. Seperti yang tampak pada inset diatas. Kebanyakan konten berisi petuah adat dan kearifan lokal. Beberapa hikayat lama baik sadur maupun taste lokal. Semisal sesuai pajangan etalase, ada yang disebut takepan Menak Percinan, menggunakan aksara sasak (jejawan) namun memakai bahasa jawa madya (krama Madya). Isi menceritakan perkawinan menak (bangsawan) Amir Hamzah dengan putri Cina. Takepan Jatiswara, bertutur tentang pengembaraan religius sufistik tokoh Jatiswara mencari kesejatian. Takepan Usada, berisi racik ramuan obatan tradisional, farmakologi tradisional (istilah usada mengingatkan nama apotik yang saya tau inisial Husada – sanskrit * red). Takepan Cilinaya, kisah perjalanan liku hidup putri Cilinaya berpisah dari suami & anak hingga kelak bersatu kembali. Takepan Rengganis, kisah romantika cinta segitiga antara Raden Repatmaja dengan Dewi Rengganis dan Dewi Kadarmanik. Takepan Indarjaya, bertutur tentang ihwal Indarjaya beribadah dan belajar ilmu agama ke Syeikh Salamuddin. Takepan Babad Suwung, kisah ihwal kerajaan Suwung yang para putra-nya disebar untuk mendirikan kerajaan kecil di tanah Lombok, seperti : Bayan, Sokong, Medain, Kuripan, Lombok, Pejanggik, Banuwa,dll.

Takepan Kotaragama, deskripsi aturan perundangan, pemerintahan dan kepemimpinan. Takepan Monyeh, kisah romantis tokoh berinisial Muncar yang menjelma menjadi monyet/kera dengan denda Winangsiya (sedikit tergelitik, probabilita merujuk acuan legenda Lutung Kasarung).

Berikut dibawah ini saya sertakan pembanding lain. Bukan takepan sasak tapi takepan asal Bali. Setidaknya menjadi bukti tentang ada-nya proses akulturasi budaya literasi. Estapet muasal varian bahasa manuskrip yang umumnya di sadur dalam sajian takepan, seperti dikatakan bahwa selain bahasa sasak dengan tipikal aksara yang di sebut jejawan. Juga terkait dengan ejaan kawi (jawa kuno) dan sansekerta. Dan nuansa jawa tidak ada bedanya dengan unsur Bali. Kedua-nya sangat mempengaruhi budaya bidang sastra Lombok lampau.



Berikut dibawah ini saya sertakan pembanding lain. Bukan takepan sasak tapi takepan asal Bali. Setidaknya menjadi bukti tentang ada-nya proses akulturasi budaya literasi. Estapet muasal varian bahasa manuskrip yang umumnya di sadur dalam sajian takepan, seperti dikatakan bahwa selain bahasa sasak dengan tipikal aksara yang di sebut jejawan. Juga terkait dengan ejaan kawi (jawa kuno) dan sansekerta. Dan nuansa jawa tidak ada bedanya dengan unsur Bali. Kedua-nya sangat mempengaruhi budaya bidang sastra Lombok lampau.

secara fisik luar, ciri mudah dilihat dari sajian toreh gambar

Bandingkan dengan penampilan takepan Lombok

Fisik luar cover kayu terlihat polos

untaian benang tengah di hiasi koin (lokal : Koin Bolong) dan pada ke-dua ujung dipasang pasak kayu untuk pemegang tiap helai lontar. Sehingga terlihat rapi sesuai pakem performa-nya.

Agak beda dengan gaya takepan bali (diatas), aksara jejawan di takepan lontar sasak ini terlihat lebih mengalir….,
spontan dan lugas. POIN pembeda lain-nya, tulisan tidak terbagi dalam kolom. tetapi berupa paragraf dan baris kalimat yang tersaji utuh. Kiri-kanan tanpa di pisahkan alur kolom seperti pada takepan lontar khas Bali.

Hampir sama klo mengutip ilmu Grafologi (mempelajari karakter seseorang dari gaya tulisan tangan), tipe huruf juga tersaji lebih lugas dan mengalir santai. Kepribadian penulis mungkin tipikal merdeka dalam ekspresi.
Bahkan dalam penutup takepan ini, tampilan huruf banyak didominasi tegakan… barangkali di baur dengan aksara Hijaiyah, Arabic alphabet.

Terlebih pada takepan Sasak ini. Nuansa huruf-nya lebih lugas. bahkan cenderung berkarakter tegas. Jarak antar huruf terlihat sangat rapi… dinamis. terasa sekali gores dan alur tekan tebal-tipis. Formasi aksara tidak lagi membulat… tapi lebih banyak bujur tegak. Ada indikasi baur huruf arab… vertikal alif dan lam. atau Lam-alif.

pada helai lontar ini bahkan banyak huruf yang melebihkan toreh “ekor” menjuntai bawah. Sangat komplikatif… runyam. Namun menjadi penyajian fakta yang ada. Mirip tampilan khas aksara mesir kuno, Hieroglif. Hanya tidak menyertakan bubuh ikonik gambar.

Last but not least. Belum cukup kemampuan yang memadai bagi saya untuk mengambil konklusi perihal begitu banyaknya varian takepan yang ditemui.
Khazanah literasi budaya dan muatan warna lokal tentu akan banyak berpengaruh. Sebagaimana disebutkan bahwasa-nya dalam perkembangan awal karya tulis dan sastra di NTB. Telah berlapis nuansa dan ritme etnis. Termasuk dampak infiltrasi warna melayu dan taste arabian. Semua bermuara pada kekayaan dan spektrum budaya rana sunda kecil, yang kelak dikenal secara fusi-geografis dinamai Nusa Tenggara Barat. Seperti yang bisa anda sekalian amati di inset terakhir. Aksara Tradisional. Begitu butuh banyak referensi di kajian-kajian mendatang. Salam gemah ripah… purna pekerti… budi dan daya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here