Terduga Teroris vs Terbukti Korupsi

Terduga Teroris vs Terbukti Korupsi
(Catatan Kegeraman)
Oleh Zulkipli, SE, MM
Teroris, fa’il dari kata teror. Jika kita muslim, suka berkumpul dengan muslim lainnya yang berpakaian tertentu, maka mungkin kita bisa termasuk yang bisa terduga teroris.
Suatu hari, diawal ramadhan, seperti biasa saya ke Kota. Berpakaian gamis selutut, memake sarung, ransel hitam, dan sedikit berjenggot. saya baru sadar dibuntuti seorang polisi dari jarak yang lumayan jauh ketika saya dipepet kemudian ditanya singkat. Mau kemana? Kerja apa?. Ketika saya jawab mau ke Pesantren Hidayatullah. Kemudian saya ajak polisi tersebut ikut ke Pesantren. Semakin bersemangat pak polisi tersebut bertanya ke saya.
Entahlah, apa wajah dan potongan saya mungkin termasuk golongan yang patut di dor. Padahal, sejak tahun 2004 sampai 2007 saya adalah mitra Polri bersama perusahaan tempat saya menjadi buruh. Dan sangat banyak mengenal polisi, termasuk pernah berdiskusi dengan intel-intel polisi.
Berita terbunuhnya Pak Guru di Bone oleh Densus 88, karena terduga teroris. Waktunya berdekatan dengan kasus Akil Mukhtar. Membuat saya geram. Geram-segeram geramnya, tapi apa yang bisa saya lakukan. Kenapa Densus 88 tidak melakukan tembak di tempat bagi terdakwa koruptor, terdakwa gembong narkoba. Kenapa mesti ummat Islam? Jika non muslim penyebar terror, kenapa tidak disebut teroris. RMS, Gerakan Papua Merdeka, gank Motor, gank hercules, gank key dan sejenisnya. Kenapa mereka tidak disebut teroris?.
Hanya karena stigma? Maka anda teroris?
Ketika saya mengajar di Secapa Polri Sukabumi. Saya memperkenalkan diri dari Pesantren Hidayatullah. Salah seorang peserta dari Polres Poso berkata. “Main-main ke Poso pak, saya siapkan hotel prodeo” heheheee
Bisa jadi, tulisan keresahan, kegeraman seperti ini telah ditulis berkali-kali oleh orang selain saya, tetapi, memang hanya ini yang bisa saya lakukan untuk meredakan kegeraman saya.
#kegeraman

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here