TGH Faishal Praya


Biografi TGH. L. Muhammad Faishal
TGH. L. Muhammad Faishal adalah satu di antara sederetan ulama yang karismatik di Pulau Lombok. TGH. L. Muhammad Faishal dilahirkan di Praya pada tahun 1925 M. Beliau dilahirkan di tengah-tengah keluarga yang sangat konsisten menjalankan agama. Ayah beliau TGH. Abd. Al Hannan[4] juga adalah sosok  ulama yang begitu intens terhadap Islam, hal ini tentu saja selanjutnya menjadi nilai tersendiri bagi perjalanan intelektual TGH. L. Muhammad Faishal terutama dalam pengembangan Islam di Pulau Lombok.

Semasa kecil, TGH. L. Muhammad Faishal telah memperlihatkan beberapa kelebihan dibanding teman sebayanya yang lain. Beliau terkenal sosok anak yang cerdas dan jujur. Melihat kelebihan yang ada pada sosok TGH. L. Muhammad Faishal, maka tidak mengherankan kemudian, ayah bunda beliau TGH. Abd. Al Hannan dan Hj. Bq. Aminah memberikan perhatian dan perlakuan yang berbeda, sebab TGH. Abd. Hannan menaruh harapan yang besar kepada sosok TGH. L. Muhammad Faishal untuk melanjutkan missi dakwah yang ketika itu dilakoninya.
Melihat sosok kelebihan yang dimiliki putranya, TGH. Abd. Al Hannan kemudian begitu intens mencurahkan perhatiannya untuk mengajarkan ilmu-ilmu agama kepada TGH. L. Muhammad Faishal. Untuk memperkuat pemahaman, pengalaman dan pengamalan TGH. L. Muhammad Faishal tentang agama, maka sejak usia dini TGH. Abd. Al Hannan selanjutnya mengirim TGH. L. Muhammad Faishal ke Pondok Pesantren Al Ittihad Ampenan untuk memperdalam ilmu agama. Disinilah TGH. L. Muhammad Faishal  kemudian memulai perjalanan intelektualnya.

Perjalanan intelektual dan Karya-karya TGH. L. Muhammad Faishal

Kecerdasan yang dimiliki sosok TGH. L. Muhammad Faishal sebagaimana narasi tersebut di atas menyebabkan ayahnya, TGH. Abd. Al Hannan berinisiatif untuk mengirim TGH. L. Muhammad Faishal ke Pondok Pesantren Al Ittihad untuk memperdalam agama. Perjalanan intelektual TGH. L. Muhammad Faishal dimulai sejak beliau terdaftar sebagai slah seorang santri di Pondok Pesantren Al Ittihad Ampenan pada tahun 1930.

Setelah menyelesaikan studinya di Pondok Pesantren Al Ittihad Ampenan, TGH. L. Muhammad Faishal selanjutnya meneruskan rehlah akademisnya ke Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI) Pancor Lombok Timur pada tahun 1936. Di Pancor beliau terkenal sebagai santri yang cerdas dan mendapatkan prestasi yang cukup gemilang, sehingga wajar kemudian TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid begitu menyayangi beliau dan TGH. L. Muhammad Faishal sejak menjadi santri juga termasuk orang yang cukup disegani oleh teman-temanya.

Selanjutnya dengan bekal pengetahuan yang diperoleh di Pancor, TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid mengangkat beliau sebagai asisten (pendamping) dalam pengembangan Islam di Lombok Timur. Dengan demikian beliau kemudian berhasil mengkader beberapa ulama karismatik di Pulau Lombok seperti, TGH. Fadhil Bodak Lombok Tengah, TGH. Muaz Karang Lebah Lombok Tengah, TGH. Subakti Praya Lombok Tengah.

Setelah menyelesaikan studinya di Pondok Pesantren NWDI Pancor thaun 1947 tepatnya ketika berusia 22 tahun, TGH. L. Muhammad Faishal selanjutnya melakukan rehlah akademik di Madrasah Sholatiyah Makkah al Mukarromah. Di sana beliau mendalami ilmu-ilmu agama bahkan beliau selanjutnya menjadi murid kesayangan Syaikh Hasan Masyath. TGH. L. Muhammad Faishal dipercaya sebagai pengurus perpustakaan yang ada di Makkah al Mukarromah, bahkan beliau selanjutnya diangkat menjadi sekretaris pribadi Syaikh Hasan Masyath. Setelah cukup lama berkhidmah di Makkah al Mukarromah, TGH. L. Muhammad Faishal selanjutnya kembali ke Lombok dan berinisiatif mendirikan lembaga pendidikan pondok pesantren.
Pada tahun 1951 TGH. L. Muhammad Faishal bersama TGH. Najamuddin Makmun, TGH. Muaz, dan TGH Subakti selanjutnya mendirikan madrasah Nurul Yakin Karang Lebah Lombok Tengah dan tepatnya pada tanggal 17 Mei 1956 TGH. L. Muhammad Faishal mulai mendesain mega proyek pembangunan Pondok Pesantren Manhalul Ulum atas partisipasi masyarakat. Disinilah kemudian TGH. L. Muhammad Faishal mencurahkan perhatiannya untuk mencerdaskan masyarakat melalui pendidikan pesantren.

Selanjutnya pada tanggal 3 Pebruari 2006, TGH. L. Muhammad Faishal meninggal dunia pada usia 70 tahun, meninggalkan dua orang istri yaitu Ibu Siti Sarah dan Hj. Bq. Sukarni dan meninggalkan 13 orang putra putri yaitu, Bq. Wafi’ah Murniati, H.L. M. Zaki Faishal, Hj. Bq. Setiati, L. Abdul Hadi Faishal, L. Mahbub Faishal, L. M. Munib Faishal, L.M. Najib Faishal, L. Habiburrahman, Bq. Nasibah, Bq Rosyidah, Bq. Husnawati, Bq. Ziadati, dan H. L. Fahmi Faishal.

Sebagai seorang tokoh karismatik di Pulau Lombok, TGH. L. Muhammad Faishal memiliki beberapa buah karya yang dituangkannya dalam tuisannya seperti kumpulan Istigfar, Sholawat dan Do’a yang berjudul Wirdul Manhal, Kitab Sirah Nabawiyah yang bertittle Inarotudduja fi Magaazi Khairil Waro. Karya yang terakhir ini merupakan kitab yang berisi tentang perjalanan Nabi Muhammad SAW dalam penyebaran agama Islam, beliau juga menyusun buku tentang kumpulan fatwa TGH. L. Muhammad Faishal yang berisi kumpulan problematika hukum Islam.
Upaya Strategis TGH. L. Muhammad Faishal dalam Pengembangan  Pendidikan Islam Masyarakat Lombok


TGH. L. Muhammad Faishal pada tanggal 15 Mei 1956/16 Muharram 1375, merintis sebuah pondok Pesantren yang diberi nama Manhalul Ulum, yang berdiri di atas tanah seluas 50 are. Adapun motivasi yang mendorong TGH. L. Muhammad Faishal mendirikan pondok pesantren adalah Sebagai bentuk kepedulian terhadap pengembangan ilmu agama, dalam rangka membentuk manusia-manusia yang tafaqquh fi addien, bermoral, dan berakhlak mulia sehingga mampu memainkan peran di masyarakat. Serta Sebagai wahana mengisi kemerdekaan dan pembangunan bangsa dalam rangka membantu pemerintah memainkan peran untuk mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana yang diamanatkan UUD 1945.

Berasarkan motivasi tersebut, maka TGH. L. Muhammad Faishal membangun pondok pesantren sebagai basis pengembangan masyarakat, mengingat masyarakat Lombok khususnya di Praya yang hampir 100% muslim. Dengan demikian sangat diperlukan sebuah wadah dalam rangka membangun masyarakat yang berkepribadian serta berakhlak qur’ani.

TGH. L. Muhammad Faishal selain sebagai seorang ulama, beliau juga dikenal sebagai sosok politisi handal. Beliau memiliki keperibadian yang luar biasa. Sehingga Gus Dur pernah melontarkan pujian kepada sosok TGH. L. Muhammad Faishal. Gus Dur pernah menulis sebuah artikel di Harian Umum Kompas yang berjudul “Tuan Guru Faishal Potret Kepribadian NU”. Dalam tulisan tersebut, Gus Dur mengungkapkan bahwa di NTB terdapat dua figur ulama besar yang sangat menonjok dan berpengaruh yaitu Tuan Guru Muhammad Zaenuddin Abdul Madjid (Pimpinan Nahdlatul Wathan) dan Tuan Guru Faishal (Ro’is Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama).

TGH. L. Muhammad Faishal adalah generasi kedua NU di NTB. Jika ditelusuri secara historis NU muncul di Lombok sejak tahun 1930-an yang dipopulerkan oleh Syekh Abdul Manan atas amanah Syekh Hasim Asy’ari Rais Akbar untuk membuka akses NU di Pulau Lombok.

Sepeninggal syekh Abdul Manan, NU selanjutnya dikembangkan oleh TGH. M. Zaenuddin Abdul Madjid dan TGH. L. Muhammad Faishal yang ketika itu NU terintegrasi dalam Masyumi, dengan demikian, maka secara otomatis kedua Tuan Guru tersebut adalah pemegang kebijakan di Masyumi.

Ketika NU memisahkan diri dengan Masyumi, kedua tokoh ini pun selanjutnya memilih jalan yang berbeda. TGH. M. Zaenuddin Abdul Madjid tetap memilih Masyumi sementara TGH. L. Muhammad Faishal tetap konsisten di NU. Langkah ini ditempuh untuk membendung pengaruh PNI yang ketika itu menjadi rival dalam memperebutkan kursi di pemerintahan.

Semenjak tumbangnya orde lama yang kemudian beralih ke orde baru, TGH. M. Zaenuddin Abdul Madjid yang semula eksis di Masyumi selanjutnya hijrah ke Golkar sementara TGH. L. Muhammad Faishal tetap di NU. Pada kampanye pemilu 1971, partai politik memiliki hubungan yang kurang harmonis dengan Golkar tidak terkecuali NU. Semenjak itulah kemudian hubungan TGH. M. Zaenuddin Abdul Madjid dan TGH. L. Muhammad Faishal mulai renggang.

Sumber : http://ahmad-nady84.blogspot.com/2015/04/tgh-l-muhammad-faishal-dan-upaya-upaya.html?m=1

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here