TGH Lopan

Makam Wali Ketaq adalah salah seorang waliyullah dari Pulau Seribu Masjid”. Beliau adalah Tuan Guru Haji Lalu Muhammad Shalih, atau yang lebih dikenal oleh khalyak ramai dengan panggilan Datuq Lopan, seorang ulama yang sangat wara’ dan gigih dalam menyebarkan ajaran Islam di Pulau Seribu Masjid.

Setelah beberapa lama beliau meninggal karena sakit, ( pasca Perang Praya I) satu pasukan dari salah satu wilayah desa Muncan – Kopang pro Karang Asem Singasari Cakranegara ketika meliwati Makam Ketaq, Melepaskan kemarahannya pada satu nisan makam Lalu Adis yang dipenggalnya dengan Pedang. Konon mereka melampiaskan kekesalan karena telah berbagai upaya mereka lakukan untuk mengalahkan Lalu Adis (Ayahanda Tuan Guru Lopan) dalam berbagai pertempuran namun beliu adalah lawan yang tetap tangguh. Sembari menghantam batu nisan tersebut mereka berkata: “Inilah  kuburan orang Praya yang senantiasa mengobrak-abrik pasukan kopang!”, katanya. Sampai sekarang ini, batu nisan yang terbuat dari batu Granit itu terpotong kepalanya.
Makam Lalu Adis di Montong Ketaq merupakan sejarah awal penggunaan bukit tersebut sebagai areal pemakaman tempat dimakamkannya Tuan Guru Lopan sekarang, Makam beliau berdampingan dengan makam Ayahnya (Lalu Adis ). Montong Ketak termasuk areal tanah pusaka milik sendiri.

BIOGRAFI DATUQ LOPAN

Tuan Guru Haji Lalu Muhammad Sholeh adalah seorang waliyullah dari Pulau Seribu Masjid, yaitu Lombok. Oleh masyarakat sasak, beliau lebih dikenal dengan nama Datuq Lopan, tak banya tahu tentang sejarah riwayat hidup beliau. Beliau dilahirkan di daerah Lopan, pada tahun 1238 H (1819 M). Daerah Lopan terletak di perbatasan antara Praya-Kopang-Mantang. Nama kecil beliau adalah Lalu Durma, pada saat berusia 20 tahun, beliau berangkat menunaikan ibadah haji melalui Labuan Haji Lombok, dan menetap di sana selama kurang lebih 8 tahun. Selama di Mekkah beliau berguru kepada ulama Mekkah asal Kelayu, Lombok Timur, beliau juga berguru pada Syaikh Musthafa al-Afifi. Beliau pulang ke kampung halaman pada tahun 1266 H (1847 M).
Ketika berada di Lombok, beliau aktif berdakwah menyebarkan agama Islam kepada masyarakat Sasak, yang mayoritasnya menganut paham “Islam Wetu Telu”. Beliau wafat pada tahun 1361 H (1942) dalam usia 123 tahun.
SILSILAH DATUQ LOPAN
Adapun silsilah keturunan beliau yang diambil dari tiga Generasi Diatasnya dapat dilihat pada Gambar Berikut:


STRATEGI DAKWAH DATUQ LOPAN

Teknik dakwah yang dilakukan TGH Lopan sangat sederhana jika kita hubungkan dengan  berbagai Pola. “Teknik Jemput Bola” istilah yang populer sekarang, Adalah sebuah  teknik yang sangat langka yang sangat-sangat langka ketika tahun-tahun beliau berdakwah  (1266-1361 H) (1847-1942 M), dalam kurun waktu kurang lebih 95 Tahun dari 123 tahun usia beliau.

Kebanyakan Ulama ketika itu di datangi murid-muridnya. Termasuk paman beliau sendiri yakni Lalu Ahmad Alias TGH.Muhtar yang mengajar/membuka pengajian dirumah beliau sendiri di Kampung Balung Adang-Praya. Kita sebut demikian karena dari kampung ke kampung, dari desa ke desa yang merupakan basis Islam Waktu Telu di Pulau Lombok ini pernah di datangi beliau. Sarana transportasi yang ada sangat minim yakni Kuda. Selebihnya berjalan kaki, Umumnya orang menjadi kenal beliau di tiap dusun dan desa yang didatangi, bermula dari berbagai kejadian atau peristiwa berbarengan dengan keberadaanya disana.

Selain itu memulai cerita dari mulut ke mulut di kampung-kampung dan desa yang dde desa terdekat yang di huni orang yang mengenal beliau sebagai seorang ulama’ yang Waliyullah. Setiap orang yang menjumpainya entah dijalan atau didusun/kampung yang singgahinya, pada umumnya mereka berebut untuk bersalaman (Bersilaturrokhim), Sekalipun beliau berada diatas punggung kuda.

Pada mulanya, tidak semua bangunan dimulai dengan bangunan yang berfungsi untuk masjid tetapi banyak pula untuk sekedar sebagai langgar (Santren/Mushalla). Namun dewasa ini karena pertumbuhan dan perkembangan manusia yang memerlukan sarana ibadah yakni masjid di Pulau Lombok khususnya (yang berpredikat sebagai Pulau Seribu Masjid), hampir semua langgar (Santren/Mushalla) yang beliau rintis telah ditingkatkan menjadi masjid oleh warga masyarakat setempat. Begitu banyak masjid yang beliau dirikan diberbagai tempat sampai kepelosok-losok desa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here