Mantan Kepala BI NTB kunjungi Bun Mudrak

Muhammad Junaifin Lubis, mantan Kepala BI perwakilan NTB mengunjungi lokasi kampung binaan Komunitas Sasak dan Bank Indonesia. Ditemani istri, beliau berdiskusi mengenang perjalanan program binaan tersebut di Bun Mudrak. Program tersebut terlaksana di masa beliau menjadi Kepala BI Perwakilan NTB. More »

Mentan Apresiasi Bun Mudrak

Jumat, 12 Juli 2013, Menteri Pertanian Suswono mengunjungi Kampung Bun Mudrak Lombok Tengah untuk melihat langsung salah satu perkembangan peternakan sapi di lokasi binaan Komunitas Sasak dan Bank Indonesia. More »

Program Desa Mandiri Ekonomi KS-BI ‘Full Employment’

Program Desa Mandiri Ekonomi yang dilaksanakan di Bun Mudrak Desa Sukarara Kec. Jonggat Kab. Lombok Tengah telah mencapai posisi full employment, hal tersebut disampaikan langsung oleh Ketua Kantor Perwakilan Bank Indonesia Propinsi Nusa Tenggara Barat Bapak Bambang Himawan(15/2). More »

 

Febriarti Khairunnisa, Mengubah Wajah Lombok

Sumber Foto : Femina online

Di usianya yang masih muda, Febriarti Khairunnisa (32) mengabdikan hidupnya untuk membesarkan bank sampah yang ia dirikan bersama suaminya, di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Bukan lagi keuntungan materi yang ingin ia kejar, melainkan kelestarian alam yang terjaga, dan kualitas hidup masyarakat yang lebih baik.

Merangkul 125.000 Warga
Lombok punya banyak tujuan wisata yang bisa dikembangkan. “Seperti Bali, Lombok punya banyak pantai yang indah. Akan tetapi, tidak sedikit yang kondisinya kotor karena sampah,” ujar gadis kelahiran 22 Februari 1984 ini. Tak hanya kondisi lingkungan kotor yang menjadi kegelisahannya, akan tetapi juga tingkat kehidupan sosial dan ekonomi masyarakatnya.

“Indeks pembangunan manusia di Lombok sangat rendah. Dari segi ekonomi, pendidikan dan kesehatan masih belum berkembang. Dari segi pendidikan, angka putus sekolah masih tinggi, begitu pula dengan tingkat pengangguran,” tutur Febri.

Melihat fakta ini, ia memutuskan untuk tidak tinggal diam. Pengalamannya pernah tinggal di Kota Gibson, Kanada, saat mengikuti program pertukaran pemuda Kanada-Indonesia yang diadakan Kemenpora tahun 2007, telah membuka matanya dan makin menguatkan komitmennya untuk lebih peduli pada lingkungan. Tepatnya ia tinggal di Sunshine Coast, British Columbia, di Kota Gibson.

“Saya kagum karena hampir semua penduduknya mengonsumsi makanan organik. Gibson punya mata air bersih sehingga mereka bisa minum dari air keran. Masyarakatnya sangat menjaga air dan alam. Mereka memilah sampah dengan baik dan menghindari pemakaian bahan kimia,” ujar lulusan Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Mataram, Lombok, ini.
Kembali ke Lombok, Febri sedih menyaksikan banyak orang yang masa bodoh, buang sampah seenaknya ke sungai dan laut. “Di sini, sungai seperti sudah dilupakan fungsinya.”

Bersama suaminya, Syawaludin (33), ia   membentuk bank sampah yang diberi nama Bintang Sejahtera NTB, berlokasi di Tanak Awu, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah. “Tentu, sebelum mulai terjun, kami harus memastikan feasibility bisnisnya ada. Kami tidak akan bisa memulainya tanpa tahu potensi bisnisnya dulu. Pasarnya harus ada, dan ada manfaat yang berjalan,” cerita Febri. Sampah seperti plastik, kardus, kertas, besi, dan aluminium  ternyata punya nilai ekonomi dan bisa dijual lagi. Sebuah perusahaan daur ulang plastik di Surabaya menjadi salah satu rekanan bisnis bank sampahnya.

Setelah  yakin ada pasar yang bisa menerima olahan sampah daur ulang, Febri dan suaminya mulai membangun sistem, yakni dengan memberi insentif berupa pinjaman untuk masyarakat. Besarnya, dari Rp100.000, Rp200.000, sampai Rp500.000. Masyarakat cukup membayar pinjaman itu dengan sampah.
Tapi, baru beberapa waktu berjalan, Febri menghadapi kredit macet. “Para nasabah mulai banyak yang nakal. Mereka ambil pinjaman di kami, tapi sampahnya mereka jual ke orang lain. Kami rugi sangat banyak waktu itu, hampir Rp100-an juta, karena masyarakat yang kami rangkul cukup banyak. Ada yang satu orang pinjamannya sampai Rp5 juta. Gara-gara merugi, kami pun set back,” kenang Febri.

Kata menyerah tampaknya tak ada dalam kamus Febri. Mulai lagi dari nol, Febri pun memutuskan untuk mengubah sistem pinjaman menjadi sistem tabungan. Tidak ada lagi yang boleh meminjam. Ia pun mengajak orang untuk menabung di bank sampahnya, atau cash and carry, mereka bisa langsung mendapatkan pembayaran dari sampah yang disetorkan. Tapi untuk itu, Febri juga harus bekerja keras menyebarkan edukasi dan penyadaran kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan.

“Umumnya, anak-anak sekolah lebih antusias untuk menabung. Lebih susah mengajak orang dewasa menabung, ketimbang anak sekolah,” kata Febri. Dari sampah yang dikumpulkan itulah, dalam sebulan, Febri bisa mengirim sampah plastik sekitar 27-35 ton. Omzetnya mencapai Rp150 juta.
Kendati demikian, Febri mengaku tidak ingin menyebut bank sampahnya ini sebagai bisnis, melainkan kewirausahaan sosial. “Orientasinya bukan untuk keuntungan pribadi, tapi bisnis yang menguntungkan masyarakat. Segala keuntungan yang kami dapat, kami kembalikan ke masyarakat,” tuturnya. Ia berharap, dari aktivitasnya ini bisa menggerakkan roda ekonomi lokal dan masyarakat bisa mendapat tambahan penghasilan.

Selain nasabah, ada pula yang memang menjadi pekerja di bank sampah, terlibat dalam proses pengumpulan, pengangkutan, penggilingan, penjemuran, dan gudang. Untuk itu, mereka mendapat gaji. Jumlah mereka yang  mendapat penghasilan di bank sampah Febri, ada sekitar 150 – 175 orang.
Di luar itu, ada komunitas-komunitas yang dirangkul untuk ikut bekerja sama, antara lain terdiri dari karang taruna, posyandu, dan desa. Belum lagi, sekolah-sekolah yang terlibat, ada sekitar 50 sekolah. Menurut Febri, kalau ditotal bisa 125.000 warga yang terjaring program ini.

Khusus untuk sekolah-sekolah, Febri melakukan program edukasi, bekerja sama dengan Kak Wawandari Kerajaan Dongeng, juara dongeng nasional asal NTB. “Tiap hari Jumat atau Sabtu, kami berkeliling dari sekolah ke sekolah, melakukan kegiatan edukasi cinta lingkungan. Anak-anak sangat terhibur dan termotivasi untuk mengumpulkan sampah,” jelasnya.

Selain sekolah, Febri juga berkeliling melakukan edukasi ke komunitas RT, kader PKK, posyandu, dan karang taruna. “Saya memutar video tentang risiko dan bahayanya sampah yang bisa menyebabkan kepunahan makhluk hidup. Ada banyak sekali zat dan logam berat beracun yang disebabkan oleh sampah. Saya ingin membongkar mindset mereka. Bukan asal yang penting sampah hilang dari mata mereka. Saya ajak mereka berpikir, ke mana sampah itu dibawa dan apa yang terjadi setelahnya,” tutur Febri, yang bercerita, masyarakat yang menyaksikan sempat tertegun melihat presentasinya.

Melepas Karier Mapan
Fokus Febri pada dunia pengolahan sampah juga karena terinspirasi dari suami. Berasal dari latar belakang keluarga yang penuh keterbatasan, sewaktu kecil  orang tua Syawaludin yang berasal dari kawasan Lombok Tengah bagian selatan sering menghadapi paceklik. Mereka tidak bisa menanam sawah, dan akhirnya hidup dari mengumpulkan sampah. Menjadi pemulung sekadar untuk bisa menyekolahkan anaknya.

Suami Febri bertekad ingin memutus mata rantai kebodohan dan kemiskinan. Dengan kerja keras, Syawaludin akhirnya berhasil duduk di bangku kuliah di Fakultas Ekonomi, Universitas Mataram, dari hasil mengumpulkan sampah kertas dan kardus.

Kagum pada kegigihan suami, Febri mengatakan pada Syawaludin, “Kalau kakak berhasil sekolah tinggi dari memulung sampah, kenapa tidak dibagi cerita ini. Jadi, tidak ada alasan bagi orang tua untuk tidak menyekolahkan anaknya. Tidak ada alasan bagi anak untuk putus asa dengan kondisi seperti itu, bahkan hanya dengan kumpulin sampah, bisa, kok, menguliahkan anak sampai perguruan tinggi. Itu yang menjadi perhatian kami dari bank sampah ini,” cerita Febri.
Setelah lulus kuliah, Febri beruntung mendapatkan pekerjaan bergaji lumayan di sebuah lembaga asing, Jerman Internasional Cooperation (GIZ, Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit) yang bertempat di Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Provinsi NTB. Setelah itu, ia sempat bekerja di Badan Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (BP3AKB) NTB.

Begitu pula Syawaludin, sempat bekerja sebagai staf ahli di DPRD Provinsi NTB. “Dari segi finansial, sebetulnya tidak ada masalah. Tapi, ini semua berawal dari keresahan, mau sampai kapan fenomena seperti ini terus terjadi dan Lombok makin kotor,” ujar Febri, yang mengatakan, rumah tinggalnya dulu sempat bermasalah dengan sampah yang tidak terurus.

Di Juni 2010, tak mau menunda-nunda lagi, Febri dan suaminya memulai dengan mengumpulkan apa yang mereka punya.  Seluruh tabungan dan cincin maskawin mereka jual. Febri juga mengajak temannya, 3 pasang suami-istri, menginisiasi program bank sampah bersama-sama. Sama seperti Febri, teman-temannya yang rata-rata berumur 25-27 pun mengumpulkan maskawin mereka untuk membiayai bank sampah.

Namun, seiring waktu, karena kesibukan yang lain, praktis yang aktif di bank sampah tinggal Febri dan suaminya. “Kami pun berpikir, ini harus digeluti secara full. Saya pun memutuskan untuk tidak lagi kerja di GIZ. Suami juga resign dari kantor dewan,” ujarnya.

Tak bisa dipungkiri, melepas karier demi bank sampah, sempat membuat Febri dan suaminya dianggap tidak waras. “Pekerjaan mengolah sampah itu identik dengan profesi yang dikerjakan pemulung berbaju compang-camping yang tinggal di rumah kardus. Saya sering ditanya orang dan diremehkan. ‘Kalian ini lulusan S-1, ngapain urus sampah. Mana yang kalian dapat dari bangku kuliah?’ Tetangga juga heran, ‘Kalian pasangan gila!’ Dipikirnya, sudah dapat pekerjaan bagus, kok, malah ditinggal,” kenang Febri. Tentangan itu tak hanya datang dari orang-orang di sekitar mereka, tapi juga dari keluarga yang mempertanyakan keputusan mereka.

Setelah 4 tahun berjalan, kata Febri, barulah mulai banyak yang paham. Ternyata, sampah itu bisa, kok, dikelola dengan baik, tanpa membuat orang yang mengelola tampak hina dina. Bahkan, perubahannya bisa dirasakan, walaupun mungkin belum terukur secara signifikan. “Dari cakupan paling kecil di kawasan RT dan sekolah, sekarang terlihat lebih bersih dan terkelola,” tutur Febri, yang pada tahun lalu memperolah penghargaan Indonesian Women of Change 2015 dari Kedubes Amerika Serikat.

Febri juga percaya, perubahan itu dimulai dari tataran rumah tangga. “Dengan cara yang simple,  tiap rumah tangga bisa menerapkan pemilahan sampah di rumah masing-masing. Dari sampah yang kita hasilkan, sebetulnya 70% berupa sampah organik. Kalau itu terkelola di rumah, akan jauh mengurangi volume sampah yang diangkut. Sebanyak 30% sampah anorganik  masih bisa dipilah lagi,” pungkasnya. (f)

sumber : femina