Mantan Kepala BI NTB kunjungi Bun Mudrak

Muhammad Junaifin Lubis, mantan Kepala BI perwakilan NTB mengunjungi lokasi kampung binaan Komunitas Sasak dan Bank Indonesia. Ditemani istri, beliau berdiskusi mengenang perjalanan program binaan tersebut di Bun Mudrak. Program tersebut terlaksana di masa beliau menjadi Kepala BI Perwakilan NTB. More »

Mentan Apresiasi Bun Mudrak

Jumat, 12 Juli 2013, Menteri Pertanian Suswono mengunjungi Kampung Bun Mudrak Lombok Tengah untuk melihat langsung salah satu perkembangan peternakan sapi di lokasi binaan Komunitas Sasak dan Bank Indonesia. More »

Program Desa Mandiri Ekonomi KS-BI ‘Full Employment’

Program Desa Mandiri Ekonomi yang dilaksanakan di Bun Mudrak Desa Sukarara Kec. Jonggat Kab. Lombok Tengah telah mencapai posisi full employment, hal tersebut disampaikan langsung oleh Ketua Kantor Perwakilan Bank Indonesia Propinsi Nusa Tenggara Barat Bapak Bambang Himawan(15/2). More »

 

Catatan Safari Literasi di Lombok

oleh : Bapak Satria Dharma (Ketum IGI/Ikatan Guru Indonesia)

Sepekan ini, 12 – 16 Oktober, saya bersafari literasi di Lombok. Saya berkeliling dari satu tempat ke tempat lain di pulau Lombok meski lebih banyak di Lombok Utara. Safari ini terwujud berkat bantuan dari teman-teman pegiat literasi yang luar biasa, yaitu Ibu Nursyda Syam dan Ibu Almira. Mereka adalah ibu rumah tangga yang mempelopori sebuah gerakan yang bernama Klub Baca Perempuan. Ibu Nursyda sendiri adalah nominator SK Trimurti Award (2013), Anugrah Jasadarma Pustaloka (2013), Perempuan She Can! (2013), nominator penerima nobel perdamaian di Jejaring Asia (2013), nominator Kick Andy! Heroes (2014), Penghargaan Kabupaten Lombok Utara bidang pengabdian masyarakat “Bintang Gendurasa Paerdaya” (2014), dan Indihome Woman Educator Awards (2014). Benar-benar seorang wanita yang menginspirasi. Profilnya bisa dibaca dihttps://lafatah.wordpress.com/2014/04/30/pejuang-literasi-dari-prawira/

Saya membaca kiprahnya di FB dan tertarik untuk mengenalnya. Setelah berhubungan beberapa kali maka tercapailah kesepakatan untuk melakukan sebuah Safari Literasi di Lombok dan nantinya Bu Nursyda yang akan mengatur jadwal saya ke mana-mana.

Bagi saya dan istri ke Lombok adalah sebuah rekreasi. Saya punya beberapa keluarga di Mataram, Narmada, Praya dan Selong. Istri saya juga punya teman akrab yang ingin ia temui. Jadi Safari Literasi ke Lombok is surely a joy.

Karena memang ingin menikmati perjalanan maka kami putuskan untuk berpindah-pindah hotel agar bisa menikmati suasana hotel yang berbeda. Istri saya akhirnya memesan voucher di 4 hotel yang berbeda, yaitu hotel Golden Palace, Fave Hotel, Jayakarta Hotel, dan Lombok Plaza. Kami sudah terbiasa traveling sehingga pindah-pindah hotel semacam itu bukan masalah bagi kami. Pada safari kali ini kami hampir selalu pulang sore atau petang dan paginya harus sudah keluar dari hotel.

HARI PERTAMA, SENIN, 12 OKTOBER 2015
KECAMATAN TANJUNG KAB. LOMBOK UTARA

Begitu tiba dan mendarat di Bandara Lombok Praya (LOP) kami langsung dijemput oleh Eka Surya, salah seorang anggota Klub Baca Perempuan, yang akan bertugas untuk mengantarkan kami kesana kemari. Kami langsung check-in dulu ke Hotel Golden Palace. Ini hotel berbintang empat dan merupakan hotel tertinggi dan terbesar di Lombok saat ini. Meski demikian kami mendapat rate yang cukup murah dari Traveloka.

Pukul 13.30 sampai 16:30 presentasi pertama saya di Sekretariat Klub Baca Perempuan di Kec. Tanjung Kabupaten Lombok Utara. Presentasi ini dihadiri oleh perwakilan klub baca 23 cabang, Kepala Dinas PLS, Kadis Perpustakaan Kabupaten Lombok Utara, dosen Unram, mahasiswa KKN, dll. Ini adalah ‘Markas Besar’ Klub Baca Perempuan. Meski tempatnya terpencil tapi peserta yang hadir datang dari berbagai tempat di Lombok Utara. Meski namanya Klub Baca Perempuan tapi ternyata banyak juga bapak-bapak dan pemuda yang menjadi anggota dan pengurusnya. Itu artinya Ibu Nursyda mampu menggerakkan hati para orang tua untuk membantu upayanya mencerdaskan anak-anak Lombok Utara melalui membaca. Salah seorang relawannya adalah Mas Eka Surya yang sehari-hari mengantarkan saya ke mana-mana dengan sabar dan penuh pengertian. Saya sangat kagum dengan militansi mereka dalam menggerakkan literasi di desa-desa. Hebatnya, tak satu pun pertanyaan atau pun pernyataan mereka yang bernada keluhan atau curhat. Mereka semua menunjukkan keyakinan dan kepercayaan diri. Mungkin ini bedanya antara khalayak awam dengan para pegiat literasi. Para pegiat literasi sudah berhenti mengeluh dan curhat. Mereka sudah pada tahap berupaya untuk melakukan apa saja yang mereka bisa tanpa perlu mengeluh. Luar biasa…!

HARI KEDUA, SELASA, 13 OKTOBER 2015
SESI PERTAMA

Hari kedua dari safari saya pagi hari adalah melakukan presentasi ke siswa SMAN 1 Tanjung di Kabupaten Lombok Utara. Nampaknya presentasi saya ke sekolah ini terwujud berkat bantuan Pak Fathur Tok, teman FB yang menjadi guru di sekolah ini.

Senang sekali bisa bertemu dengan teman FB secara langsung. Ada sekitar 50 siswa dan beberapa orang guru yang hadir pada presentasi saya yang dilakukan di sebuah kelas. Presentasi literasi di SMAN 1 Tanjung KLU ini mendapatkan tanggapan yang baik dari siswa yang penuh semangat dan antusiasme. Mungkin disamping mereka jarang mendapatkan presentasi dari ‘Pejabat Pusat dari Jakarta’ saya juga membawa buku yang saya bagi-bagikan pada siswa yang mau menjawab pertanyaan atau pun mau bertanya.

Saya memang selalu berupaya membawa beberapa buku untuk saya bagi-bagikan pada para audiens saya. Itu upaya untuk mendapatkan perhatian dari mereka secara berkelanjutan. And it always works. :)

SESI KEDUA

Presentasi literasi pada siang harinya adalah pada sekitar 200-an mahasiswa/i STKIP Hamzar di Gedung Pertemuan KLU. Saya sempat bertemu dengan pendiri dari STKIP ini, yaitu Bapak TGH. Hazmi Hamzar sendiri. Beliau adalah seorang pejuang pendidikan di Lombok yang berhasil mendirikan banyak lembaga pendidikan mulai TPA sampai dengan Sekolah Tinggi di berbagai kota di Lombok. Di bawah Yayasan Yamtia berhasil didirikan 18 Madrasah Ibtidaiyah, 3 SD Islam, 13 Madrasah Tsanawiyah, 1 SMP, 2 SMA, dan 2 Madrasah Aliah. Di samping itu, juga didirikan 8 SMK dan dua buah perguruan tinggi, yaitu STIKES Hamzar di Kabupaten Lombok Timur dan STKIP Hamzar.di KLU.

Kali ini saya melakukan presentasi berduet bersama Ibu Nursyda Syam yang menceritakan proses pendirian Klub Baca Perempuan yg sangat inspiratif tersebut. Karena semua peserta adalah mahasiswa/i maka pertanyaan mereka tentu lebih kritis dan lebih bersemangat.

HARI KETIGA, RABU, 14 OKTOBER 2015

Pagi ini presentasi ttg literasi di Pondok Pesantren Nurul Haramain NW Narmada di Lombok Barat NTB. Ponpes ini adalah ponpes modern yang besar dan popular di Narmada. Ponpes ini didirikan oleh almarhum Tuan Guru Wen. Guru Wen (panggilan bagi Tuan Guru Haji Much. Djuaini Muchtar) mendirikan ponpes ini sebagai upaya untuk mengajak masyarakat Sasak yang waktu itu masih menganut agama Islam yang tercampur dengan kepercayaan animism dan dikenal dengan Islam Wektu Telu. Guru Wen, sebagai pendiri Ponpes Haramain Narmada ini, sangat arif. Meski tugas utamanya adalah berdakwah untuk mengajarkan Islam yang murni dan membrantas ajaran animisme tapi beliau tidak mau berkonflik dengan masyarakat Sasak yg masih menganut ajaran Waktu Telu yg sinkretis. Padahal dakwah beliau adalah utk mengajarkan Islam yg murni tanpa tercampur sinkretisme. Beliau memperkenalkan ‘varian’ Islam Waktu Lime pada mereka. Ini luar biasa…! Yg salah tidak langsung dihajar dan dihakimi tapi didekati dengan penuh empati dan dituntun ke arah yg lebih baik.

Seharusnya kita belajar pada strategi perjuangan beliau…!

Sekarang ponpes ini dipimpin oleh TGH Hasanain Juaini. Sayang sekali bahwa saya tidak bisa bertemu dengan beliau. Ketika saya datang beliau sedang sakit setelah pulang malam dari bekerja sampai larut di tanah garapannya. Padahal salah satu alasan saya untuk berdafari ke Lombok adalah bertemu dengan Tuan Guru ini. TGH Hasanain Juaini yang berusia 51 tahun ini adalah salah seorang yang memperoleh penghargaan Ramon Magsaysay 2011 karena mengembangkan pesantren yang peduli lingkungan, menghormati perempuan, serta membangun kerukunan beragama. Sebagai pemimpin Pondok Pesantren Nurul Haramain di Desa Lembuak, Lombok Barat, Propinsi Nusa Tenggara Barat, kini namanya sejajar dengan tokoh-tokoh seperti Abdurrahman Wahid, Mochtar Lubis, atau Pramoedya Ananta Toer, yang juga pernah meraih penghargaan Ramon Magsaysay. Selain Hasanain, warga Indonesia lainnya yang juga memperoleh penghargaan ini pada tahun itu adalah Tri Mumpuni, yang memberdayakan masyarakat melalui pembangkit listrik tenaga air yang ramah lingkungan. Hebatnya TGH Hasanain Juaini ini juga peraih Ashoka International Award for Best Fellow in Religion and Women Empowerment (2003). Jadi TGH Hasanain Juaini adalah seorang Pendekar Lingkungan, Toleransi Beragama, dan Pemberdayaan Perempuan sekaligus yang luar biasa kiprahnya. Kiprah beliau bisa dibaca dihttp://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2011/08/110825_tokohhasanainjuainidan http://sutarko.blogspot.co.id/2011/08/hasanain-peraih-penghargaan-ramon.html

Hal yang mengesankan lainnya dari ponpes ini adalah bahwa para ustadz dan ustadzahnya masih muda-muda dan nampak antusias dalam menerima masukan dari luar. Antusiasme mereka adalah suntikan energi bagi saya.

HARI KEEMPAT. KAMIS, 15 OKTOBER 2015
TANJUNG KAB. LOMBOK UTARA
FESTIVAL GEMAR MEMBACA 2015

Acara safari saya pada hari keempat ini sangat istimewa karena bertepatan dengan Festival Gemar Membaca Kabupaten Lombok Utara. Acara di aula kantor bupati KLU dibuka langsung oleh Sekda KLU, Drs .H.Suardi, MH, dengan seminar bertajuk Percepatan Pengentasan Kemiskinan melalui Gerakan Literasi” yang dirangkai dengan acara Festival Gemar Membaca di alun-alun kabupaten Lombok Utara. Acara ini diadakan oleh Klub Membaca Perempuan Kabupaten Lombok Utara yang dipimpin oleh Ibu Nursyda. Yang lebih unik lagi adalah hadirnya beberapa tuna netra di bawah Pertuni (Persatuan Tuna Netra Indonesia) di bawah Ibu Fitri.

Pada acara tersebut mereka menunjukkan kebolehannya dalam memainkan alat musik. Hal ini membuat Pak Sekda menjadi terharu. Menurutnya meski mereka tidak dapat melihat, namun memiliki kelebihan yang lain daripada kita yang melihat.

Setelah memberikan presentasi saya lalu kembali ke ruang kantor Pak Suardi dan minta beliau untuk mengundang Kepala Dinas Pendidikan dan Kepala Kantor Perpustakaan yang tidak hadir pada acara presentasi saya. Mumpung berada di KLU saya manfaatkan untuk bisa bertemu dengan para pejabat pengambil keputusan di bidang literasi. Kalau bisa mengajak mereka untuk menggerakkan literasi bersama-sama maka itu tentulah luar biasa. Ketika mereka hadir satu persatu saya pun mengajak mereka untuk meluncurkan program gerakan literasi utk menjadikan KLU sebagai Kabupaten Iqra’ dengan program literasi sebagai basisnya.

Visinya adalah Mengentaskan Kemiskinan melalui Gerakan Literasi. Kepala Kantor Perpustakaan sangat antusias dan Kepala Dinas Pendidikan bersedia untuk mengundang para kepala sekolah pada acara di waktu mendatang. Melihat keseriusan Pak Suardi ini saya lalu berjanji untuk datang lagi membantu KLU menjadi Kabupaten Literasi. Jika jadi diluncurkan maka Kabupaten Lombok Utara bisa menjadi Kabupaten Literasi pertama di Indonesia. Sayang sekali bahwa kami masih harus menunggu selesainya semua proses Pilkada sehingga terbentuknya kepemerintahan kabupaten Lombok Utara yang baru. And it may take a while…

HARI KELIMA, JUM’AT, 16 OKTOBER 2015
PONPES DARUL MUHAJIRIN PRAYA LOTENG

Safari literasi terakhir saya sebelum balik ke Surabaya adalah ke Pondok Pesantren Darul Muhajirin di Praya Lombok Tengah. Ini adalah acara dadakan.

Secara tiba-tiba saya dihubungi oleh Tilla, salah seorang keponakan saya, yg tinggal di pesantren Darul Muhajirin karena bersuamikan anak pemilik pesantren tersebut. Karena suaminya meninggal maka Tilla mendapat amanah untuk mengurusi ponpes tersebut. Begitu dihubungi saya baru ingat bahwa Tilla sekarang mengurusi ponpes tersebut. Akhirnya saya minta utk mengatur jadwal presentasi pagi sebelum saya pulang ke Surabaya. Kebetulan pesawat saya jadwalnya siang hari dan juga bahwa jarak pesantren tsb ke bandara Lombok Praya hanya sepuluh menit.

Kami dijemput langsung oleh Tilla bersama familinya pada pagi hari di Hotel Lombok Raya. Kali ini saya datang bersama Tante Els, seorang expatriat ecologist yg telah tinggal di Lombok cukup lama, yg menjadi sukarelawan utk mengajari masyarakat Lombok utk mengolah sampah menjadi barang yg berguna. Saya memintanya utk memberikan pencerahan ttg pentingnya mengurangi sampah dan mengolahnya menjadi barang yg berguna.

Santri pondok ini sangat antusias mendengarkan materi yg saya sampaikan. Mereka juga antusias utk menjawab pertanyaan dan bertanya karena menguber hadiah buku yg saya janjikan.

Melihat ponpes ini saya merasa iba. Jelas sekali bahwa ponpes ini membutuhkan bantuan tenaga pemikir yang bisa membuatnya menjadi ponpes modern seperti di Nurul Haramain. Siapakah kira-kira yang bisa saya ajak untuk membantu ponpes ini…?!

Salah satu hal yang saya peroleh dari kunjungan atau safari saya kali ini adalah ide-ide. Saya mendapat pencerahan dari ide dan inisiatif Mas Eka Surya. Ayah dari seorang putrid kecil ini puny ide hebat untuk mendatangkan relawan-relawan untuk membantunya mencerdaskan masyarakat Lombok. Ia mengikuti sebuah komunitas internasional dan kemudian melemparkan tawaran pada komunitas tersebut untuk datang dan tinggal di Lombok secara gratis. Jadi jika ada expatriate yang mau datang dan berbagai ilmu, umpamanya mengajar bahasa Inggris, maka ia menawari tempat tinggal dan makan gratis selama di Lombok. Tentu saja tawaran ini menarik bagi para relawan dari berbagai negara sehingga mereka berdatangan ke rumah tinggal Eka Surya sambil mengajar bahasa Inggris sebagai imbalannya.

Ini adalah ide yang luar biasa. Indonesia adalah Negara yang indah dan tentunya akan banyak orang manca yang mau berkunjung, apalagi kalau adatawaran nginap gratis di rumah penduduk, dengan imbalan mengajar apa saja yang menjadi ekspertis mereka.
Melihat potensi Lombok Utara saya lalu mendapat ide untuk meluncurkan program One Visitor One Book”’ (Satu Pengunjung Satu Buku). Ini adalah sebuah program untuk donasi buku bagi para pengunjung di Lombok. Jadi selain menikmati keindahan pulau Lombok para pengunjung diajak untuk menyumbang sebuah buku bacaan bagi anak-anak di Lombok. Caranya adalah dengan bekerjasama dengan toko buku/penerbit dan hotel-hotel yang ratusan jumlahnya di Lombok Utara. Jadi kita membuat sebuah leaflet himbauan pada para pengunjung untuk menyumbang sebuah buku bagi anak-anak di Lombok. Jadi toko buku meletakkan buku-buku anak-anak di setiap hotel untuk dibeli oleh para pengunjung. Setiap hotel akan mengajak setiap pengunjung untuk menyumbang satu buku.

Buku-buku tersebut sudah tersedia di resepsionis hotel dan para pengunjung boleh memilih buku apa yang ingin ia beli dan sumbangkan melalui hotel di mana ia menginap. Setelah mengambil satu buku yang ia inginkan buku tersebut nantinya akan distempel dan diberi tulisan : Buku ini adalah sumbangan dari (nama penyumbang) asal (negara penyumbang). Buku-buku ini nantinya akan diambil dan disumbangkan pada sekolah-sekolah atau TBM-TBM yang ada di Lombok.